SUMENEP, RadarMadura.id – Banyak masyarakat masih bertanya soal manfaat membayar iuran Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), terutama bagi mereka yang jarang menggunakan layanan kesehatan. Padahal, iuran tersebut berperan besar menjaga sistem gotong royong yang menjadi dasar pelaksanaan program ini.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Pamekasan, Galih Anjungsari, menjelaskan bahwa iuran JKN tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga menjadi bentuk solidaritas sosial membantu peserta lain yang membutuhkan biaya pengobatan. Menurutnya, prinsip JKN adalah saling menolong antarpeserta agar semua orang mendapat layanan kesehatan tanpa khawatir biaya.
“Iuran yang dibayarkan peserta setiap bulan digunakan untuk membiayai peserta lain yang sedang sakit. Inilah wujud nyata dari prinsip gotong royong dalam Program JKN, di mana yang sehat membantu yang sakit, dan yang mampu membantu yang kurang mampu,” ujar Galih, Rabu (15/10).
Ia menambahkan, melalui mekanisme ini, beban biaya besar dari pengobatan penyakit berat bisa ditanggung bersama oleh seluruh peserta. Dengan demikian, peserta JKN terlindungi dari risiko finansial akibat sakit yang memerlukan biaya tinggi.
“Sebagai contoh, biaya operasi jantung yang bisa mencapai Rp150 juta dapat ditanggung bersama sekitar 4.200 peserta JKN kelas 3. Jadi, setiap peserta hanya menanggung sekitar Rp35.700. Inilah kekuatan sistem gotong royong, dengan iuran kecil manfaatnya bisa besar,” jelas Galih.
Baca Juga: BNI Dukung BPJS Ketenagakerjaan Tingkatkan Layanan Jaminan Sosial Lewat BNIdirect Cash
Galih menegaskan, tanpa sistem ini, masyarakat harus menabung hingga ratusan tahun untuk membayar sendiri biaya pengobatan penyakit berat. Program JKN hadir agar tak ada lagi masyarakat jatuh miskin karena biaya berobat yang mahal.
“Kalau harus membayar sendiri, tentu tidak semua orang mampu. Ada kasus peserta perlu operasi jantung, kalau tanpa JKN mungkin perlu menabung hingga 350 tahun agar bisa menutupi biayanya. Di sinilah pentingnya JKN bagi keberlanjutan hidup sehat masyarakat,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tetap membayar iuran JKN secara rutin dan tepat waktu. Hal ini penting untuk menjaga keaktifan kepesertaan sehingga bisa digunakan kapan pun dibutuhkan.
“Dengan rutin membayar iuran, berarti kita ikut menjaga agar sistem ini terus berjalan. Ketika suatu saat kita sakit, sistem yang sama akan menolong kita melalui iuran peserta lain. Itulah keadilan sosial yang diwujudkan lewat JKN,” kata Galih.
Sementara itu, Martuhani (50), peserta JKN asal Sumenep, mengaku sempat ragu terhadap manfaat JKN karena jarang berobat. Namun, pandangannya berubah setelah anggota keluarganya menjalani perawatan di rumah sakit dengan kartu JKN tanpa mengeluarkan biaya besar.
Baca Juga: BPJS Kesehatan Nobatkan Faskes Terbaik 2025, Dorong Layanan JKN Lebih Berkualitas
Ia mengatakan, pengalaman itu membuatnya yakin bahwa iuran JKN bukan beban, melainkan investasi kesehatan keluarga. Ia kini merasa tenang karena JKN melindungi seluruh anggota keluarga kapan pun dibutuhkan.
“Awalnya saya berpikir percuma bayar iuran karena jarang berobat. Tapi setelah suami saya operasi dan semua biayanya ditanggung JKN, saya sangat bersyukur. Sekarang saya sadar, iuran kecil yang kami bayarkan ternyata bermanfaat besar,” ungkap Martuhani.
Martuhani menambahkan, membayar iuran JKN secara rutin adalah bentuk kepedulian terhadap sesama. Menurutnya, meski tidak digunakan sendiri, iuran tetap membantu orang lain yang membutuhkan.
“Saya pikir sekarang, kalaupun kami tidak pakai, setidaknya iuran kami membantu orang lain yang sedang berjuang untuk sembuh. Jadi tidak ada yang sia-sia, semuanya kembali sebagai kebaikan,” pungkasnya. (dry)
Editor : Hendriyanto