PAMEKASAN, RadarMadura.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan mendeteksi sejumlah penyakit saat melakukan program cek kesehatan gratis (CKG).
Hingga Agustus, terdapat 846 kasus TBC. Data ini tidak sesuai dengan target yang ditentukan sebanyak dua ribu kasus.
Kepala Dinkes Pamekasan Saifuddin menyampaikan, rendahnya kasus yang berhasil dideteksi berjalan lurus dengan capaian skrining yang dilakukan.
Hingga bulan ini, capaian program CKG hanya 10 persen dari target 90 persen jumlah penduduk di Bumi Pamelingan.
”Jadi pemerintah daerah diminta kerja keras menemukan suspek TBC dan mengobati sampai sembuh. Untuk mencapai itu perlu kerja keras,” katanya.
Saifuddin mengutarakan, CKG merupakan program dari pemerintah pusat yang telah dilaksanakan mulai dari awal tahun. Sasarannya 90 persen dari jumlah penduduk di Pamekasan.
Sasaran berdasarkan siklus hidup, meliputi ibu hamil, balita, anak sekolah, remaja, orang dewasa, dan lansia.
Sasaran skrining tersebut telah dilakukan di beberapa tempat potensial.
Misalnya, posyandu, tempat keramaian, sekolah, puskesmas, dan tempat lainnya.
Bahkan, pihaknya melibatkan sejumlah instansi untuk mencapai target.
”Tidak semua masyarakat mau memeriksakan diri. Padahal tujuan CKG ini supaya pemerintah punya peta kesehatan,” tuturnya.
Dia mengakui jika capaian program CKG masih jauh dari target.
Tersisa 80 persen penduduk yang harus diperiksa kesehatannya.
”Laporan dari petugas, masyarakat belum paham pentingnya skrining,” ungkapnya.
Saifuddin menambahkan, Pemkab Pamekasan dibantu sarana pendukung dari pemerintah pusat untuk merealisasikan program CKG.
Yakni, belanja bahan medis habis pakai (BMHP) untuk kebutuhan skrining semua penyakit.
Anggarannya bersumber dari dana alokasi khusus (DAK) nonfisik.
Data JPRM, tahun ini anggaran belanja BMHP mencapai Rp 9,5 miliar.
Namun, anggaran tersebut diklaim tidak hanya untuk kebutuhan CKG.
”Ada beberapa item di dalam anggaran tersebut, jadi tidak hanya untuk CKG,” ungkapnya. (ay/bil)
Editor : Amin Basiri