SAMPANG, RadarMadura.id – Desa Mandangin, Kecamatan Sampang, tercatat sebagai lokus stunting sejak 2019 hingga 2022.
Lalu, pada 2023 desa yang berada di Pulau Mandangin ini dinyatakan keluar dari lokus stunting. Namun, tahun ini Desa mandangin masuk lokus stunting lagi.
Tim Percepatan Penurunan Stunting (PPS) Sampang sudah menentukan lokus stunting 2025.
Desa Mandangin masuk lagi dalam lokus stunting. Tim PPS menilai bahwa angka kasus tengkes di Mandangin masih tinggi.
Kabid Pemerintahan dan Pengembangan Manusia Bappelitbangda Sampang Anas Muslim mengatakan, lokus stunting setiap tahun berubah.
Hal itu bergantung pada hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) yang dilakukan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Dia menyebut, penentuan lokus stunting bergantung pada kasus tengkes di setiap desa. Jika kasusnya di desa tinggi, dimasukkan dalam lokus stunting.
Sebab, lokus stunting dijadikan dasar tim PPS untuk melakukan intervensi.
”Intervensi yang kami lakukan diutamakan pada lokus stunting. Meskipun di semua desa ada kasus stunting,” tuturnya.
Anas mengungkapkan, tahun ini Desa Mandangin kembali masuk dalam lokus stunting.
Sebab, angka kasus tengkes di desa tersebut tinggi. Padahal, tahun lalu Desa Mandangin tidak masuk lokus stunting.
Dia menjelaskan, ada tiga kriteria yang menjadi acuan dalam menentukan lokus stunting.
Yakni, angka keluarga rawan stunting (KRS), prevalensi, dan jumlah balita pendek tinggi. Tahun ini ada 12 desa yang masuk lokus stunting, termasuk Desa Mandangin.
”Kami melakukan evaluasi bersama tim PPS setiap semester untuk melihat capaian program intervensi kasus stunting di sejumlah OPD,” katanya.
”Desa Mandangin memang jadi perhatian kita,” tukasnya. (bil)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Berta SL Danafia