BANGKALAN, RadarMadura.id – Kasus baru tumor otak di seluruh dunia pada 2020 mencapai 308.102 kasus. International Agency for Research on Cancer (IARC) mencatat, lebih dari 126.000 orang di dunia setiap tahun mengidap tumor otak.
”Lebih dari 97.000 penderitanya meninggal. Sedangan prevalensi penderita tumor otak di Indonesia sekitar 1,5 persen dari semua kasus dan insidensi sekitar 1,9/100.000 orang dewasa,” ujar Dokter Spesialis Bedah Saraf RSUD Syamrabu M. Irfan Rahmatullah, Sp. BS, M.Ked.Clin.
Tumor otak merupakan pertumbuhan abnormal yang terjadi di dalam otak. Penyebabnya, sel-sel dalam otak mengalami pembelahan secara tidak terkendali.
Secara teoretis, tumor otak dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis. Yakni, tumor primer yang pertumbuhannya berasal dari sel-sel otak atau jaringan di sekitarnya.
Kemudian, tumor sekunder yang merupakan hasil penyebaran kanker dari bagian tubuh lain ke otak. Berdasarkan tingkat keparahannya, tumor otak juga dapat diklasifikasikan menjadi dua.
Yakni, tumor jinak yang merupakan pertumbuhan lambat dan jarang menyebar ke jaringan sekitarnya.
”Kedua tumor ganas yaitu tumbuh cepat dan dapat menyerang jaringan otak yang sehat,” jelasnya.
Jenis tumor otak yang paling umum terjadi di dunia adalah astrocytoma. Yaitu, jenis tumor otak yang berasal dari sel astrosit berbentuk bintang di otak.
Sedangkan gejala yang ditimbulkan berupa sakit kepala berkepanjangan, kehilangan nafsu makan, dan menurunnya kemampuan kognitif.
”Kemudian, mengalami gangguan keseimbangan saat berjalan. Selain itu, meningioma juga menjadi kasus yang cukup sering terjadi di Indonesia,” ujarnya.
Irfan mengungkapkan, diagnosis yang dapat dilakukan terhadap penderita tumur otak yaitu dengan pemeriksaan neurologis dan tes pencitraan.
Sementara itu, prediksi kesembuhan tumor sangat bervariasi. Bergantung pada jenis tumor, lokasi, respons terhadap pengobatan, dan faktor individu lainnya.
Rehabilitasi dan dukungan psikososial juga memainkan peran penting dalam pemulihan dan adptasi pasien.
”Meskipun tumor otak merupakan kondisi yang bahaya, kemajuan dalam pemahaman, diagnosis, dan pengobatan terus memberikan harapan bagi pasien dan keluarga. Kesadaran akan gejala awal dan pemeriksaan rutin bagi mereka yang beresiko tinggi sangat penting untuk deteksi dan penanganan dini," tuturnya.
”Pendekatan yang komprehensif dan dukungan yang tepat sangat dibutuhkan oleh pasien dalam menjalani kehidupan yang lebih berkualitas,” katanya. (jup/bil)
Editor : Ina Herdiyana