BANGKALAN, RadarMadura.id – Penyakit kanker menjadi penyebab kematian terbanyak kedua setelah jantung. Bagi perempuan, kasus kanker didominasi kanker payudara dan leher rahim.
Namun bagi kaum adam, angka kejadian tertinggi didominasi kanker paru dan hati.
Penanggung Jawab Laboratorium Patologi Anatomi RSUD Syamrabu dr. Kurrotun Ayni B, Sp.PA menyatakan, keganasan kanker paru mencapai 13 persen. Penderita lebih banyak laki-laki daripada perempuan.
”Karena itu, kanker paru memerlukan penanganan dan tindakan cepat dan terarah,” ujarnya.
Salah satu cara mendeteksi kanker paru melalui prosedur diagnostik pulmonologi intervensi.
Yaitu, transbronchial needle aspiration (TBNA) atau tindakan pengambilan spesimen paru (biopsi) dengan menembus dinding dada.
”Tindakan tersebut dilakukan dokter spesialis paru,” ujar perempuan berhijab itu.
TBNA semakin akurat apabila dibarengi dengan pemeriksaan rapid on site evaluation (ROSE).
Yakni, pemeriksaan sel dari benjolan di tubuh yang dilakukan langsung saat pasien masih berada di ruang tindakan atau kamar operasi.
Tindakan ROSE bertujuan menilai apakah sampel yang diambil sudah cukup untuk penegakan diagnosis kelainan sel maupun pemeriksaan selanjutnya.
”Tindakan tersebut dilakukan oleh dokter spesialis patologi anatomi,” ujar perempuan yang biasa dipanggil dokter Ayni.
Baca Juga: BRI Serahkan Satu Unit Mobil Ambulan Kepada RSUD Syamrabu Bangkalan
Adanya kolaborasi pemeriksaan TBNA dan ROSE sangat bermanfaat bagi pasien sehingga dapat terhindar dari pengulangan pengambilan sampel di lain waktu.
”Serta bisa mempercepat penegakan diagnosis kanker paru,” katanya. (jup)
Editor : Ina Herdiyana