BANGKALAN, RadarMadura.id – Angka kasus stunting di Kabupaten Bangkalan bergerak fluktuatif. Berdasar data pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat elektronik (e-PPGBM), ribuan anak mengalami stunting.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangakalan berjanji akan terus meningkatkan layanan posyandu.
Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat (KGM) Dinkes Bangkalan Moh. Farid menyampaikan, pihaknya mendata perkembangan kasus stunting di Kota Salah setiap bulan.
Data terakhir yang tercatat di e-PPGBM, angka stunting di Kota Salak mencapai 1.197 anak.
Dia mengutarakan, data stunting e-PPGBM merupakan hasil operasi timbang dari 41.894 anak.
Menurut Farid, perkembangan kasus stunting di Bangkalan cukup fluktuatif. ”Dalam lima bulan terakhir, catatan tertinggi berada di bulan Mei,” tuturnya.
Pada Januari, jumlah stunting terdata 1.152 anak, Februari ada kenaikan menjadi 1.156 anak.
Maret angka stunting 1.149 anak, dan April turun dua kasus menjadi 1.147 anak. Namun pada Mei, kasus stunting melonjak menjadi 1.197 anak.
Farid mengungkapkan, meski ada peningkatan grafik kasus, prevalensi stunting di Bumi Zikir dan Salawat sudah memenuhi target nasional, yaitu 14 persen.
Saat ini angka prevalensi stunting di Bangkalan di angka 2,94 persen.
”Sekalipun prevalensi stunting di Banglalan sudah memenuhi target nasional, kami melihat masalah stunting membutuhkan perhatian serius. Tugas pemerintah ke depan bagaimana caranya mencapai zero stunting,” ungkapnya.
Dia berjanji akan terus mengupayakan berbagai langkah agar stunting di Bangkalan dapat ditekan hingga nol persen.
Di antaranya, meningkatkan layanan kesehatan di seluruh posyandu seperti pemeriksaan ibu hamil, layanan kesehatan anak, hingga penyuluhan catatan nikah (catin).
”Catin ini yang menjadi tantangan kita karena masih banyak di Bangkalan yang nikah muda sehingga berisiko tinggi melahirkan anak stunting,” paparnya.
Farid menambahkan, seluruh posyandu di Bangkalan sudah dibekali alat antropometri. Alat untuk mengukur anak stunting ini disebar secara merata ke semua posyandu sehingga lebih mudah menangani anak stunting.
Termasuk mendorong pemerintah desa dan TP PKK terlibat penuh dalam menekan stunting.
”Kami juga butuh peran lintas sektor seperti pemerintah desa atau TP PKK. Dengan demikian, animo warga Bangkalan tinggi untuk datang ke posyandu,” pungkas Farid. (c3/bil)
Editor : Ina Herdiyana