BANGKALAN, RadarMadura.id – Kanker payudara menjadi salah satu penyakit berbahaya yang menjadi pemicu kematian.
Karena itu, sangat penting dilakukan deteksi dan penanganan sejak dini bagi para penderita.
Dokter Spesialis Bedah RSUD Syamrabu dr Yusfik Helmi Hidayat, Sp.B, FINACS menyatakan, data registrasi Rumah Sakit (RS) Kanker Dharmais Jakarta 2003–2007 menunjukkan penderita kanker payudara paling mendominasi.
Angkanya 26 persen dibandingkan jenis kanker lainnya. Perkiraan angka kematian akibat kanker payudara di Indonesia 18,6 per 100.000.
Sebagian besar penderita kanker payudara di Indonesia berobat dalam stadium lanjut. Seperti yang dilaporkan RS Kanker Dharmais Jakarta.
”Penderita yang berobat saat stadium I enam persen. Sedangkan yang berobat saat stadium II 18 persen.
Sementara pasien yang berobat dalam kondisi stadium III 44 persen dan stadium IV 32 persen,” terangnya.
Faktor risiko kanker payudara terbagi dua kelompok. Yaitu, kelompok dapat dan tidak dapat diubah.
Beberapa contoh faktor risiko yang tidak dapat diubah yaitu usia, riwayat keluarga, menstruasi di usia dini, dan menopause yang terlambat.
”Sedangkan obesitas pascamenopause, penggunaan terapi sulih hormon, konsumsi alkohol, dan aktivitas fisik yang rendah adalah contoh faktor risiko yang dapat diubah,” imbuhnya.
Pria yang biasa disapa dokter Yusfik itu menjelaskan, usia merupakan salah satu faktor risiko yang paling penting.
Di Amerika Serikat, risiko hidup seorang wanita untuk menderita kanker payudara adalah 12,15 persen. Meningkatnya faktor risiko itu salah satunya karena bertambahnya usia.
Juga ditentukan oleh faktor risiko lain yang dimiliki tiap individu. Misalnya, obesitas, penggunaan terapi sulih hormon atau fungsi reproduksi.
Wanita dengan riwayat kanker payudara dalam keluarga juga memiliki risiko yang meningkat.
Peningkatan risiko ini sebanding dengan jumlah keluarga inti yang menderita.
”Jika dibandingkan dengan wanita tanpa riwayat keluarga, risikonya meningkat 1,8 kali jika terdapat riwayat satu penderita,” terangnya.
Kanker ovarium dalam keluarga juga merupakan faktor risiko kanker payudara yang harus diperhitungkan.
Studi kasus kontrol menyatakan, jika dibandingkan dengan nulipara, wanita yang melahirkan kali pertama di bawah usia 20 tahun mempunyai risiko 50% lebih rendah terhadap terjadinya kanker payudara.
”Sedangkan wanita yang melahirkan di atas usia 35 tahun meningkatkan risiko sebesar 22%.
Laktasi merupakan salah satu faktor protektif kanker payudara. Wanita yang melakukan laktasi akan menurunkan risiko sebesar 11 persen,” sambungnya.
Penurunan risiko itu akan terlihat jika laktasi dilakukan lebih dari 1 tahun. Faktor hormon eksogen seperti kontrasepsioral dan TSH termasuk dalam risiko kanker payudara.
Kontrasepsi oral yang digunakan lebih dari 10 tahun juga merupakan risiko yang akan meningkatkan terjadinya kanker payudara sebesar 10 persen.
Begitu pula dengan TSH yang akan meningkatkan risiko sebesar 23%. Kombinasi estrogen dengan progesteron dalam TSH mempunyai risiko lebih besar 33 persen jika dibandingkan dengan estrogen saja sembilan persen.
Menstruasi awal dan menopause yang terlambat juga merupakan faktor risiko.
Studi dari Collaborative Group on Hormon Factor in Breast Cancer menyimpulkan, risiko relatif kanker payudara meningkat sebesar lima persen untuk setiap menstruasi yang terjadi setahun lebih awal.
Densitas payudara yang tinggi pada mamografi termasuk dalam faktor risiko kanker payudara empat sampai enam kali lebih besar.
Obesitas di usia menopause merupakan kondisi lain yang dapat meningkatkan risiko kanker payudara.
”Kelainan jinak payudara dapat berupa lesi nonproliferatif, proliferatif tanpa atipia, dan proliferatif dengan atipia,” terangnya.
Radiasi dinding dada dosis tinggi pada wanita usia 10–30 tahun juga memiliki risiko kanker payudara.
Efek ini akan mulai terlihat pada delapan tahun pasca radiasi dan semakin meningkat selama lebih dari 25 tahun. Selain itu, alkohol merupakan risiko meningkatkan kadar estrogen dan androgen dalam darah.
”Konsumsi alkohol dua gelas per hari meningkatkan risiko sampai 21 persen,” katanya. (jup)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Ina Herdiyana