PAMEKASAN, RadarMadura.id – Peringatan Hari Dokter Nasional yang jatuh pada 24 Oktober menjadi momen penting bagi para dokter di Indonesia. Salah satu seperti yang dirasakan dokter Vitriyaturrida asal Pamekasan, Jawa Timur.
Vitri, panggilan akrab dr. Vitriyaturrida, membagikan tips dan cerita perjuangannya dalam meraih profesi yang mulia ini. Dia berasal dari latar belakang keluarga yang sederhana.
Ayah Vitri merupakan seorang guru. Sedangkan ibunya merupakan ASN di lingkungan Pemkab Pamekasan. Vitri yakin, berkat doa kedua orang tuanya dia bisa meraih profesi seorang dokter.
”Kuncinya itu berbakti kepada orang tua. Perihal biaya itu tidak usah khawatir, insyaallah ada jalan,” ucapnya.
Vitri juga menyampaikan, saat masih duduk di bangku SMA dirinya tidak tahu mau bercita-cita apa. Hanya saja dia mendapatkan dukungan dari gurunya untuk menjadi dokter.
Berkat kedisiplinanya selama satu bulan, Vitri belajar beberapa buku ujian dari pagi hingga malam. Kemudian dia diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang dan mendapatkan beasiswa.
”Saya juga membuka les bagi anak-anak SMP dan SMA untuk meringankan beban kedua orang tua selama kuliah," kata Vitri.
Sewaktu pendidikan dokter umum selama enam tahun memang butuh ketabahan dan perjuangan. Menurut Vitri, ketika mendapatkan jadwal jaga bisa sampai 30 jam tidak tidur. Meskipun seperti itu, Vitri menganggap hal itu melatih fisik dan mentalnya untuk selalu siaga saat memberikan pelayanan kepada pasien.
Setelah itu, perempuan yang saat ini menjabat sebagai Kepala KSM Kardiologi RSUD Smart Pamekasan menempuh pendidikannya lagi dengan melanjutkan sekolah residen spesialis jantung di kampus yang sama.
Perjuangannya pun semakin bertambah kala itu menjadi seorang istri dan ibu dari empat anak dengan mendapatkan support dari keluarga.
"Alhamdulillah mendapatkan nilai cumlaude dengan beasiswa dari Kemenkes," ujarnya.
Saat ini Vitri melanjutkan sekolah konsultan intervensi di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga selama satu tahun. Menurutnya, kuncinya yaitu sabar, tabah dan selalu niatkan dalam hati untuk menjadi dokter yang baik.
Menurutnya, dokter adalah profesi antara pengetahuan, kekuatan dan hati nurani bersatu. Tak hanya itu, dari tubuh manusia bisa senantiasa bersyukur kepada Allah bahwasanya sungguh hebat ciptaannya.
"Terimakasih semua dokter Indonesia. Mari mengabdi untuk kesehatan dan kebermanfaatan sesama manusia," pungkasnya. (ail/dry)
Editor : Hendriyanto