SEORANG teman mengirim foto yang memperlihatkan lembar kertas berisi puisi berjudul Sagara Aeng Mata Ojan pukul 07.51 Selasa (13/8). Foto yang dikirim melalui pesan WA itu disertai kata ajuri'i dengan latar banner bertulis Lomba Puisi Madura 2024.
Saya balas dengan pertanyaan lokasi lomba itu. Saya senang karena puisi saya oleh panitia dipilih untuk dibaca peserta lomba.
Kemudian pada pukul 08.43, seorang guru mengirim foto lembar puisi berjudul Madura. Di bawah judul itu tertulis "Angghitan: Syarif AH." Pesan itu disertai pesan suara yang bertanya arti kata apolang sodek yang terdapat dalam puisi tersebut.
Saya baca puisi Madura itu. Sepertinya tidak asing bagi saya. Setelah saya cermati, saya yakin itu puisi saya. Namun, pengarangnya kok "Syarif AH?" Tulisannya juga berantakan.
Lalu, saya minta naskah-naskah yang disediakan panitia. Guru itu kemudian mengirim fail PDF yang berisi tiga judul puisi. Yakni, Mon Dhika Lakar Bintang karya Adrian Pawitra, Sagara Aeng Mata Ojan karya Lukman Hakim AG, dan Madura Angghitan Syarif AH.
Saya perhatikan, tulisan puisi Madura yang pertama dikirim guru itu tidak sama dengan tulisan puisi Madura yang -katanya- disediakan panitia. Saya menduga teks pertama hasil ketik ulang guru untuk mengajari muridnya. Sebab, di lembar itu disertai nomor pada baris-barinya dan dibuat renggang seperti terdiri atas banyak bait. Mungkin untuk menandai penggalan.
Saya coba buka buku dan fail puisi saya yang berjudul Madura. Ternyata benar itu puisi saya. Saya minta kepada seorang teman yang pertama kirim pesan tadi agar disampaikan kepada panitia bahwa puisi itu bukan karya Syarif AH seperti yang dibagikan kepada peserta dan juri.
Selain itu, saya minta teman itu menanyakan sumber yang dijadikan rujukan oleh panitia. Sebab, saya khawatir justru memang rujukannya yang keliru. Ternyata, informasi yang saya dapat menyatakan bahwa panitia mengambil puisi itu dari https://ainurrahman37.blogspot.com/2014/09/puisi-bahasa-madura-saghara-aeng-mata.html?m=1.
Saya perhatikan laman itu. Ternyata memuat puisi-puisi saya yang termuat dalam buku Sagara Aeng Mata Ojan terbitan Balai Bahasa Surabaya pada 2008. Unggahan pada Sabtu, 14 September 2014, itu berjudul SAGhâRâ AèNG MATA OJHEN. Di bawah judul itu tertulis Lukman Hakim AG. Dalam unggahan itu, puisi berjudul Madura ada dan tidak ada nama "Syarif AH." di bawah judul. Di bagian akhir juga terdapat riwayat pengarang.
Nama "Syarief AH" memang ada dalam buku Sagara Aeng Mata Ojan, tapi di bagian persembahan dan puisi lain. Bukan di puisi Madura. Sampai di sini, saya menduga panitia kurang cermat. Dugaan kedua, https://ainurrahman37.blogspot.com/2014/09/puisi-bahasa-madura-saghara-aeng-mata.html?m=1 merupakan salin tempel dari https://pancongpangarang.blogspot.com/2010/10/sagara-aeng-mata-ojan-antologi-puisi.html yang saya unggah pada Minggu, 3 Oktober 2010, dengan judul SAGARA AENG MATA OJAN (ANTOLOGI PUISI MADURA LUKMAN HAKIM AG.). Namun, pengunggah ainurrahman37.blogspot.com sepertinya menulis ulang judul menjadi SAGhâRâ AèNG MATA OJHEN.
Saya juga sempat bertanya kepada salah seorang panitia via pesan WA. Namun, pertanyaan tentang kebenaran pencipta puisi Madura berjudul Madura yang tertulis "Syarif AH." itu tidak terjawab. Meski demikian, nama pencipta puisi tersebut kemudian diralat dalam pelaksanaan lomba tersebut.
Seorang panitia itu meminta maaf karena panitia tidak izin kepada saya. Mungkin yang dia maksud izin ambil puisi untuk dibaca panitia. Untuk itu, saya tidak mempermasalahkan. Saya bilang gratis dan halal tanpa izin.
"Sajjegga nomer tengnga, ampon eoba asma anggidannepon," kata seorang teman yang ada di lokasi lomba. Dengan begitu, berarti pembaca puisi Madura sebelumnya membaca "Syarif AH."
Puisi Madura itu juga bisa dibaca di halaman 08 dalam buku Nèmor Kara terbitan Balai Bahasa Surabaya (sekarang Balai Bahasa Jawa Timur) 2006, halaman 35 Sagara Aeng Mata Ojan terbitan Balai Bahasa Surabaya 2008, dan Sagara Aeng Mata Ojanterbitan Penerbit Sulur pada 2020.
Dari peristiwa ini, saya mengucapkan terima kasih kepada panitia yang telah menyemarakkan agustusan dengan menggelar lomba baca puisi berbahasa Madura. Saya ucapkan terima kasih pula kepada panitia telah memilih dua puisi saya untuk dibaca peserta.
Terima kasih juga kepada seorang guru yang bertanya arti kata apolang sodek yang dengan kiriman foto teks puisi itu saya jadi tahu bahwa ada kesalahan nama pengarang. Terima kasih juga kepada teman yang hadir di lokasi yang menyampaikan kesalahan ini kepada panitia sehingga dikoreksi.
Terima kasih juga kepada ainurrahman37.blogspot.com yang telah membagikan ulang puisi-puisi saya. Dengan itu, mungkin makin banyak yang baca. Namun, akan lebih baik jika tulisan di judul diperbaiki.
Bagi saya, menjadikan puisi Madura sebagai salah satu mata lomba agustusan itu bagus. Saya senang dan mengapresiasi itu. Puisi karya siapa saja yang dibacakan. Namun, sebaiknya panitia benar-benar cermat menentukan naskah puisi yang akan dipilih agar tidak salah berjemaah. Untung jika ada yang tahu dan mengoreksinya.
Dalam kasus ini saja, kemarin saya baca unggahan FB seorang guru yang menulis bahwa puisi Madura yang dibaca muridnya adalah karya Syarif AH. Karena itu, saya koreksi dan dia menyadari bahwa tidak tahu.
Panitia jangan jera "hanya" karena kesalahan nama ini. Tetap dan terus semarakkan lomba baca puisi Madura. Catatan ini hanya untuk mengoreksi adik-adik yang telanjur baca "Syarif AH" dan guru yang membimbingnya. (*)
Mlj, 15082024
Salam,
Lukman Hakim AG.