Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Mari Cegah Pembusukan Bahasa Madura

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 10 Maret 2024 | 14:35 WIB

Lukman Hakim AG.
Lukman Hakim AG.
 

Kedai LUKMAN HAKIM AG.

 

Anggota dewan terpilih kemungkinan ada yang akan duduk di komisi pendidikan dan kebudayaan. Sangat mungkin menganggarkan dan mengawasi program pelestarian dan pengembangan bahasa Madura. Saya harap mereka juga turut dibina agar tidak mengulangi memajang APK salah tulis.

 

CATATAN tentang alat peraga kampanye (APK) berbahasa Madura belum berakhir. Penggunaan bahasa Madura pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 lebih banyak dibanding coblosan sebelumnya.

Namun, peningkatan jumlah tidak dibarengi kualitas produk. Setidaknya dalam penulisan.

Saya tergelitik dengan APK caleg DPR RI Syamsuri Nurcholis. Di banner yang saya lihat terdapat foto calon, logo PKS, dan gambar pasangan Amin.

Yang menarik dicatat adalah tulisan Putra Asli Madura Sittung Ateh (Satu Hati). Mestinya itu ditulis … Settong Ate (1973) atau …Sèttong Atè (2011).

Kekurangtepatan juga terdapat pada APK caleg DPRD RI Syafiuddin. Dia punya jargon yang ditulis Song Osong Lombhung.

Mestinya Song-osong lombung (1973) atau Song-osong Lombhung (2011). Dari dua kata dasar osong dan lombung (lombhung).

Saya juga melihat APK caleg DPRD Bangkalan Tohir di Ketengan. Di banner itu tertulis Senneng Abhekteh. Ngireng Coblos Nomor 1.

Baca Juga: Dapat Piagam Penghargaan Desa Wisata Jantung Nusantara, Pulau Masakambing Berpotensi Jadi Destinasi Nomor Wahid di Sumenep

Di gambar itu terdapat logo Partai Nasdem, foto calon, gambar surat suara. Jika diperbaiki, tulisan itu mestinya Senneng Abakte. Ngereng Cocco Nomer 1 (1973) atau Senneng Abhâktè. Ngèrèng Cocco Nomer 1 (2011).

Tulisan bahasa Madura persembahan Sahabat Hasbullah Muchtaram (Saham) juga kurang tepat.

Di banner besar dengan foto caleg DPRD Bangkalan Mohammad Romli dan Ketua DPC PPP Bangkalan Hasbullah Muchtaram itu tertulis Ampon Bektonah Apolong Ka PPP Ka Anggui Bangkalan Sebekal Dheteng dengan huruf kapital.

Penulisan yang benar adalah Ampon Baktona Apolong ka PPP Kaangguy Bangkalan se Bakal Dhateng (1973) atau Ampon Bâktona Apolong ka PPP Ka’angghuy Bhângkalan sè Bhâkal Ḍâteng (2011).

Kesalahan penulisan bahasa Madura juga saya baca pada APK caleg DPRD Pamekasan Faizal Arif. Di jalur utama selatan Madura saya melihat tulisan Ta’ Ajhenjih Ken Ebhukteaghinah dengan huruf besar semua.

Selain tulisan, di banner itu terdapat logo Partai Nasdem, foto calon, dan gambar surat suara. Tulisan itu mestinya Ta’ Ajanji, ken Ebukteyagina (1973) atau Ta’ Ajhânjhi, kèn Èbhuktèyaghina (2011).

Masdawi, caleg petahana DPRD Sumenep juga mendekati pemilih dengan bahasa Madura. Di APK politikus Partai Demokrat itu tertulis Hasel Ta’dina Asal disertai logo partai, foto calon, gambar surat suara.

Tulisan itu sepertinya menggunakan ejaan 1973. Namun, kurang spasi. Bila diperbaiki menjadi Hasel Ta’ Adina Asal atau Hasèl Ta’ Adhina Asal (2011).

Tulisan Pelean Ate! yang disertai foto caleg DPRD Sumenep Nur Jannah, logo PKB, foto dan logo Amin juga kurang tepat. Mestinya Peleyan Ate (1973) atau Pèlèyan Atè (2011).

Begitu juga dengan tulisan pada APK caleg DPRD Sumenep Eksan: Nyo’on Dukungan tor Du’a Epon Ajunan. Ele’ Pale’ Pagghun PKB.

Tulisan itu tidak konsisten karena mencampurkan pola penulisan ejaan 1973 dengan ejaan 2011. Mestinya Nyo’on Dukungan tor Du’aepon Ajunan. Ele’-pale’ Paggun PKB (1973) atau Nyo’on Ḍukungan tor Du’aèpon Ajunan. Elè’-palè’ Pagghun PKB (2011).

Ele’ Pale’ Pagghun PKB di APK Eksan itu tidak sama dengan di gerbang kantor DPC PKB Sumenep. Di pintu itu tertulis Ele’ Pale’ Paggun PKB dengan huruf kapital. Tulisan ini mendekati ejaan 1973.

Hanya kurang tanda hubung. Apabila diperbaiki menjadi Ele’-pale’ Paggun PKB (1973) atau Elè’-palè’ Pagghun PKB (2011).

Berbeda-beda tetapi tetap satu partai, tidak harus bertengkar. Seperti pesan Ketua DPRD Sumenep yang juga politikus PKB Abdul Hamid Ali Munir pada Pemilu 2024.

Di Pongbaru saya melihat gambarnya dengan pesan tertulis Ja’ Atokaran (ejaan 1973) menggunakan huruf kapital disertai foto yang bersangkutan dengan pose satu jari.

Melihat tulisan Hamid itu, berarti tidak semua tulisan APK politikus salah. Selain milik Hamid, tulisan APK caleg DPRD Sumenep Hadariadi juga membuat saya senang.

Di banner kecil yang saya lihat, di bawah foto Hadariadi terdapat tulisan Nojjune Sae, Bajjra Asareng Masyarakat.

Tulisan itu benar menurut ejaan 1973. Dan, sepertinya Hadariadi memang paham dan sengaja menggunakan ejaan itu.

Sementara jika ditulis menggunakan ejaan 2011 menjadi Nojjunè Saè, Bhâjjhrâ Asareng Masyarakat.

Setelah coblosan muncul lagi tulisan-tulisan berbahas Madura. Yakni, pada ucapan-ucapan kepada para calon terpilih. Misal, ucapan Karang Taruna Desa Ko’olan untuk caleg DPRD Jatim Mahfud: Jhek Loppah Mikker Dhisah.

Menurut ejaan 1973 tulisan itu mestinya Ja’ Loppa Mekker Disa atau Jhâ’ Loppa Mèkkèr Dhisa (2011).

Begitu juga dengan ucapan untuk caleg DPRD Sumenep Rasidi yang tertulis Ngabdih Ngopene disertai foto calon. Bila diperbaiki menjadi Ngabdi Ngopene (1973) atau Ngabdhi Ngopènè (2011).

Kesalahan-kesalahan penulisan itu tidak hanya terjadi pada APK para calon. Di simpang tiga Desa Waru Barat, Kecamatan Waru, Pamekasan, terdapat tulisan berbahasa Madura begini: Kala’ Pessenah, Jhe’ Coblos Orengah.

Seharsunya ditulis Kala’ Pessena, Ja’ Cocco Orengnga (1973) atau Kala’ Pèssèna, Jhâ’ Cocco Orèngnga (2011).

Catatan-catatan tentang bahasa Madura APK ini merupakan cara cinta saya kepada Madura dan para calon.

Semoga Anda tidak bosan untuk terus menggunakan bahasa Madura di ruang terbuka. Sebab, dengan cara itu Anda sebenarnya sudah turut serta dalam pelestarian dan pengembangan bahasa Madura.

Namun, jika menulis bahasa Madura tanpa memperhatikan paramasastra Madura, Anda justru mencemari bahasa Madura. Tentu saja kita tidak mau pembusukan itu terjadi. Saya tahu yang Anda mau hanya meraup suara sebanyak-banyaknya.

Namun, saya sangat amat berharap masih ada ruang sekian persen untuk turut memperhatikan bahasa Madura. Setidaknya dalam setiap tulisan APK yang Anda pajang di ruang publik.

Karena itu, pastikan tim pemenangan Anda ada yang paham bahasa. Termasuk bahasa Madura. Jika Anda tak tahu dan tim Anda juga tidak paham, konsultasilah kepada pihak yang ahli.

Bisa konsultasi ke Balai Bahasa Jawa Timur, Pakem Maddhu, Dhu’remmek, Tim Nabara, dan Tim Damar Kambang. Atau, para ahli di luar lembaga atau komunitas itu.

Kesalahan-kesalahan itu tetap dipajang karena pemasang tidak tahu bahwa materinya salah.

Karena itu, para calon tampil percaya diri dengan wajah penuh senyum mejeng di setiap sudut ruang. Mereka tak tahu bahwa tulisannya salah sehingga tak merasa malu.

Berapa jumlah APK yang diproduksi partai dan calon pada pemilu kali ini? Berapa jumlah biaya produksi dan pemajangan?

Berapa berat semua APK itu? Setelah ditertibkan, APK dari semua bahan itu dibawa ke mana atau diolah menjadi apa? (*)

*)Wartawan Jawa Pos Radar Madura

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#pemilu #alat peraga kampanye #salah #salah tulis #tulisan #bahasa madura #apk #komisi pendidikan dan kebudayaan #kurang tepat #Ejaan #Penulisan