RadarMadura.id - Peristiwa tenggelamnya kapal Keoyoung Sun di perairan Shimonoseki, Jepang pada Rabu (20/3) membawa duka bagi warga Indonesia. Pasalnya delapan dari 11 anak buah kapal (ABK) merupakan Warga Negara Indonesia (WNI).
Salah satu diantara ABK kapal berbendera Korea Selatan tersebut merupakan warga Bangkalan, Madura, Jawa Timur. Yaitu Muh. Munir Agung S yang beralamat di Jalan Pelabuhan, Kelurahan Pangeranan, Bangkalan.
Pria yang lahir pada 19 Juni 1999 itu dipastikan meninggal dunia akibat insiden tenggelamnya kapal tanker tersebut. Pihak keluarga juga sudah mendapat konfirmasi dari pihak otoritas terkait.
Baca Juga: Kapal Setaman Terbalik, Dua ABK Hilang
Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) Osaka, Jepang membenarkan peristiwa itu. Informasi yang diterima dari Japan Coast Guard (JCG) menyebutkan jika kapal tanker tersebut membawa 11 awak, terdiri dari delapan WNI, dua warga Korea Selatan dan satu orang warga Tiongkok.
"Sembilan awak ditemukan, delapan diantaranya meninggal. Kesembilan awak belum diketahui identitasnya," kata Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia (PWNI dan BHI) Kementerian Luar Negeri RI Judha Nugraha saat memberikan keterangan singkat kepada media.
ABK yang dievakuasi semua ada di dalam kapal. Sementara sisanya masih proses pencarian. Kapal tanker yang memuat bahan kimia tersebut awalnya meminta bantuan karena kapalnya mulai miring karena cuaca buruk pada pukul 07.00 waktu Jepang.
Sementara itu Siti Hotidja selaku kerabat Muh. Munir Agung membenarkan jika keponakannya menjadi salah satu korban ABK yang meninggal akibat insiden kapal Keoyoung Sun di Jepang.
"Jasad keponakan saya masih di Jepang dan kemungkinan tiba di Indonesia pada Jumat (22/3)," terangnya singkat. (dry)
Editor : Hendriyanto