SUMENEP, RadarMadura.id – Kericuhan terjadi di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Duko 1, Desa Duko, Kecamatan Arjasa, sekitar pukul 08.30 pada Senin (26/5).
Peristiwa itu diduga dipicu oleh ulah Muhlis, warga yang mengaku sebagai anggota Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Bidik.
Dia mempertanyakan realisasi dana bantuan operasional sekolah (BOS) senilai belasan juta rupiah. Adu argumen antara Muhlis dan kepala sekolah sempat terjadi sebelum akhirnya Muhlis menggebrak meja dan memicu keributan.
Karena suasana semakin tidak terkendali, Muhlis kemudian diminta untuk keluar dari ruangan guru.
Dia menolak dan menantang untuk dipukul. Dalam video yang beredar, berkali-kali Muhlis diminta untuk keluar dari ruang guru. ”Ayo pukul saya, pukul, pukul,” kata Muhlis.
Di tengah adu mulut itu, Muhlis berusaha didorong keluar dari ruang guru oleh pihak sekolah. Dalam video itu juga terlihat siswa menyaksikan kericuhan tersebut.
Kepala SDN Duko 1 Moh. Yunus mengatakan, video yang viral itu dipicu oleh sikap kurang baik anggota LSM di sekolahnya.
Yunus mengungkapkan, sikap anggota LSM kurang terpuji itu sudah dua kali terjadi di SDN Duko 1 dengan orang yang berbeda.
”Pada saat kami tunduk pada mereka (LSM), teman-teman akan semakin dipermainkan, itu pernyataan dari KKKS dulu pada kami,” tuturnya.
Yunus mengakui tidak semua sikap anggota LSM tidak terpuji. Dia menyatakan, ada sebagian anggota LSM yang datang dengan cara baik-baik.
”Mereka ada yang datang dengan baik-baik, menawarkan barang, dan kami menolak karena tidak ada anggaran, dan mereka menerimanya dengan baik,” ungkapnya.
Pihaknya telah melaporkan kejadian itu ke Dinas Pendidikan (Dispendik) Sumenep melalui pengawas sekolah.
”Belum melapor ke polisi, tapi kami masih memikirkan keberlangsungan murid. Karena harus bolak balik untuk memenuhi panggilan polisi jika melaporkan itu, kasihan anak-anak,” kata Yunus.
Sementara itu, anggota LSM Bidik Muhlis menyampaikan, kedatangannya ke SDN Duko 1 untuk mempertanyakan dana BOS. Namun, saat itu kepala sekolah menyatakan bukan ranah LSM, melainkan ranah dinas.
Soal insiden menggebrak meja, Muhlis mengaku terpancing dengan kata-kata kepala sekolah. ”Saat itu kemudian semakin panas, dan saya didorong untuk keluar dari ruangan guru. Selain itu, saya juga diteriaki oleh ratusan siawa yang ada di sekolah itu,” katanya kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Selasa (27/5).
Muhlis merasa dirugikan dan diintimidasi dengan peristiwa itu. Karena itu, dia akan melapor ke Polres Sumenep.
”Karena ini sudah menjadi konsumsi publik, seolah-olah saya tersudut, padahal saya hanya ingin mempertanyakan dana BOS,” katanya. (tif/luq)
Editor : Hera Marylia Damayanti