Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Usai Renggut Nyawa Sepupu, Pelaku Pertikaian di Pamekasan Menyerahkan Diri ke Polisi

Hera Marylia Damayanti • Jumat, 19 Juli 2024 | 13:35 WIB
BERDUKA: Jenazah Rahem dimasukkan ke di RSUD Smart Pamekasan, Rabu (17/7) malam. (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)
BERDUKA: Jenazah Rahem dimasukkan ke di RSUD Smart Pamekasan, Rabu (17/7) malam. (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Pertikaian berujung maut antara Rahem dan Alim meninggalkan duka mendalam.

Sebab, tidak ada yang menyangka warga Desa/Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, itu tega menghabisi nyawa sepupunya sendiri.

Karena keluarga Rahem sudah menganggap Alim telah melupakan masalah asmara yang menjadi asal muasal renggangnya hubungan keduanya.

Tetapi, dendam lama itu kembali memuncak hingga berujung maut, Rabu (17/7). Setelah melancarkan aksinya, pelaku menyerahkan diri ke polisi.

Berdasarkan keterangan salah satu kerabat korban, peristiwa berdarah itu terjadi saat anak dari pelaku menanyakan keberadaan ibunya.

Tiba-tiba amarah Alim tidak terbendung dan langsung menghampiri korban di kediamannya yang tidak jauh dari rumah pelaku.

”Mereka dikabarkan cekcok masalah lama. Lalu, terjadilah peristiwa pertikaian itu,” ujar perempuan yang identitasnya enggan dikorankan tersebut.

Kakak korban, Sahwi, juga mengaku tidak mengetahui secara detail mengenai kronologi peristiwa berdarah itu.

Tetapi, dia membenarkan bahwa pemicu pertikaian antara Alim dan adiknya dilatarbelakangi masalah asmara.

Korban dikabarkan sempat tepergok berduaan dengan istri pelaku.

”Sudah nasibnya seperti ini. Kami hanya meminta doa agar almarhum diterima amal baiknya dan diampuni segala dosanya. Keluarga yang tersisa juga bisa saling memaafkan. Karena, pelaku dan korban masih satu darah,” harapnya.

Sehari-hari Alim dikenal sebagai pribadi yang tertutup. Pria yang kesehariannya bekerja mengantarkan air mineral itu tidak banyak bergaul dengan masyarakat.

Bahkan, Sahwi juga tidak tahu pasti mengenai hubungan antara Alim dan istrinya.

Kabar lainnya, pelaku diduga mengalami halusinasi hingga mengantarkannya ke lembah amarah.

Sebab, dia melihat istrinya selingkuh dengan korban melalui mimpi. Pengakuan tersebut disampaikan oleh pelaku kepada salah satu kerabatnya.

”Kalau memang pelaku melihat langsung kejadian itu (dulu, Red), kenapa tidak langsung dihabisi saat itu juga? Kenapa harus menunggu waktu yang lama hingga lima bulan? Intinya, masalah asmara itu terjadi sekitar Februari 2024,” ucapnya.

Rahem sempat merantau ke luar Madura setelah berhenti menjadi sopir. Alim memang berkata jika Rahem pulang akan dihabisi.

Tetapi, ancaman itu rupanya tidak terlalu dihiraukan oleh korban. Hingga akhirnya, keduanya bertemu dan terlibat pertikaian sekitar pukul 17.00 Rabu (17/7).

Kapolsek Tlanakan AKP Junairi Tirto Admojo menyatakan, tidak ada satu pun warga yang berani melerai saat peristiwa berdarah itu terjadi.

Sebab, warga takut karena pelaku memegang celurit. Rahem baru bisa dievakuasi setelah pelaku meninggalkan korban yang sudah terbujur kaku di tanah.

”Awalnya, pelaku ini datang dengan tangan kosong ke rumah korban. Di situlah terjadi cekcok. Lalu, korban ini mengambil sajam. Pelaku juga langsung pulang ke rumahnya untuk mengambil sebilah celurit hingga terjadi pertikaian,” ulasnya.

Setelah menghabisi nyawa Rahem, Alim tidak kabur. Dia menyerahkan diri ke polisi.

Saat itu juga anggota Polsek Tlanakan membawa pelaku ke Polres Pamekasan untuk diproses lebih lanjut. Polisi juga mendalami motif kejadian tersebut.

”Untuk sementara memang dipicu masalah asmara antara istri pelaku dengan korban. Tetapi, kami masih terus menggali keterangan untuk proses selanjutnya. Pelaku sudah kami amankan,” tukasnya. (afg/jup)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#dendam lama #masalah asmara #cekcok #Menghabisi nyawa #Kecamatan Tlanakan #Peristiwa berdarah #pertikaian