PAMEKASAN, RadarMadura.id – Teror ledakan diduga bondet di rumah ketua kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) masih misteri.
Tim gabungan Polres Pamekasan dan Polda Jatim masih berusaha mengungkap pelaku dan motif di balik ledakan tersebut.
Di tengah kerja polisi muncul spekulasi bahwa ledakan itu terkait dengan obat-obatan terlarang.
”Kemungkinan ada warga yang geram dengan kelakuan putra Kusyairi yang diduga menjadikan tempat tersebut sebagai tempat mengonsumsi sabu,” ujar salah seorang narasumber Rabu (21/2).
Kapolres Pamekasan AKBP Jazuli Dani Iriawan mengatakan, ledakan bondet di rumah ketua KPPS Desa Nyalabu Daya, Kecamatan Pamekasan, memasuki hari ketiga.
Institusinya masih terus melanjutkan penyelidikan yang dibantu tim Polda Jatim untuk mengungkap motif dan pelaku.
”Masih kami lakukan proses penyelidikan lebih mendalam,” terangnya.
Pamen dengan pangkat dua melati di pundaknya itu menerangkan, institusinya akan tetap berusaha semaksimal mungkin untuk mengusut tuntas insiden tersebut.
Terutama untuk mengungkap motif dan pelaku teror tersebut. ”Kami sudah di-backup Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jawa Timur (Jatim) dan tim Satbrimob Polda Jatim,” terangnya.
Dani menerangkan, informasi yang beredar di tengah masyarakat memang mengarah pada dugaan tempat tersebut meresahkan masyarakat.
Sebab, pihaknya mendengar rumah itu disebut-sebut digunakan sebagai tempat mengonsumsi obat terlarang.
Namun, pihaknya belum berani memastikan kebenaran dugaan penyebab seperti informasi yang beredar.
”Masih kami lakukan penyelidikan, kami rampungkan hasil keterangan dari saksi-saksi dan cukup alat bukti dulu. Baru nanti bisa diungkap pelaku dan motifnya,” ujarnya.
Pihaknya berharap pelaku segera diungkap. Sebab, di momen pemilu saat ini, insiden ledakan membuat panik warga.
”Kami imbau masyarakat dapat mawas diri untuk sama-sama menciptakan Pamekasan aman, tertib, dan damai,” jelasnya.
Kasatreskrim Polres Pamekasan AKP Doni Setiawan mengatakan, tim yang bergerak di lapangan melakukan penyelidikan sudah meminta keterangan tujuh saksi. Mereka terdiri atas pemilik rumah, putra Kusyairi, dan tetangga.
Doni tidak memungkiri sempat ada informasi teror ditujukan kepada putra Kusyairi. Namun, kebenaran informasi tersebut belum jelas.
”Berdasar hasil penyelidikan, sampai saat ini belum ditemukan yang mengarah pada informasi itu. Termasuk juga belum ditemukan motif yang mengarah pada teror yang berkaitan dengan problem politik terhadap Kusyairi sebagai ketua KPPS itu,” ujarnya.
Pada Selasa (20/2) Kapolda Jawa Timur (Jatim) Irjen Pol Imam Sugianto mengatakan, institusinya telah mengerahkan tim melakukan identifikasi untuk membantu penyelidikan di tempat kejadian perkara (TKP) ledakan.
Hasil penyelidikan di TKP, institusinya sudah mengumpulkan sampel bahan yang digunakan untuk bahan peledak. ”Kalau tidak salah, jenis peledaknya bondet,” tuturnya.
Dia menambahkan, di antara upaya yang telah dilakukan tim gabungan dengan meminta keterangan beberapa saksi.
Namun, belum ada petunjuk yang mengarah pada pelaku. ”Tidak bisa berandai-andai. Biarkan tim gabungan bekerja dulu di lapangan untuk menindaklanjutinya,” pintanya.
Kepala Desa Nyalabu Daya Mohammad Juhri mengatakan, selama ini tahapan pemilihan di desanya berlangsung aman dan lancar.
Termasuk di TPS tempat Kusyairi menjadi ketuanya. ”Aman dan tidak ada kendala maupun konflik,” ujarnya.
Sepengetahuannya, Kusyairi memiliki tiga anak yang terdiri atas dua laki-laki dan satu perempuan.
Pihaknya kurang mengetahui pasti informasi terkait dugaan rumah tersebut sering dijadikan sebagai tempat mengonsumsi obat-obatan terlarang.
Jawa Pos Radar Madura (JPRM) berupaya mengonfirmasi yang berkembang kepada Kusyairi.
Namun, saat didatangi ke rumahnya tidak ada. ”Nanti saja,” balasnya melalui pesan WhatsApp pukul 13.33. (bai/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti