SUMENEP, RadarMadura.id - La Ngetnik, Grup musik asal Sumenep Madura, resmi menarik sejumlah lagu dan album mereka dari layanan streaming musik Spotify.
Keputusan ini diumumkan dalam instastory resmi dari akun Instagram @la_ngetnik setelah melalui diskusi internal panjang dan didasarkan pada sejumlah alasan yang mereka anggap prinsipil, Selasa (19/08)
Beberapa diantaranya ada pada album perdana mereka dengan tajuk Lawh yang berisi dua belas lagi didalamnya.
Dalam keterangan resminya, La Ngetnik menilai Spotify kurang transparan dalam menyajikan data grafik pemutaran musik.
Menurut mereka, persoalan ini bukan hanya dialami La Ngetnik, melainkan juga banyak musisi lain di dunia. Ketidakjelasan dalam sistem perhitungan dianggap dapat memengaruhi fairness dalam distribusi royalti.
Rifan Khoridi, selaku leader dari La Ngetnik menjelaskan bahwa ada banyak yang harus ditinjau hari ini dari segi ketidak sehatan industri musik.
"La Ngetnik akan terus mencoba bersikap bijaksana dalam problematik yang berkaitan dengan Ke-tidaksehatan Industri Musik hari ini, baik lokal maupun global. Semisal persoalan hak royalti yang sedang trend Akhir-akhir ini, Saya merasa banyak hal yang perlu ditinjau ulang tentang penarikan royalti secara sepihak dan membebani pengusaha dalam pemutaran lagu dicafe atau restoran." ungkapnya
Selain itu, beberapa karya La Ngetnik disebut terlalu sensitif karena menyinggung isu fanatisme dan kepercayaan tertentu.
Band ini menegaskan bahwa karya-karya tersebut lahir dari ruang ekspresi bebas tanpa muatan diskriminatif. Penilaian semacam ini, menurut mereka, justru berpotensi membatasi kebebasan berekspresi musisi.
La Ngetnik juga menegaskan posisi mereka untuk tidak mendukung langkah CEO Spotify yang dikabarkan memberikan dukungan finansial kepada perusahaan militer yang terafiliasi dengan praktik genosida terhadap rakyat Palestina. Bagi band ini, musik tidak boleh dilepaskan dari nilai kemanusiaan.
“Musik bukan hanya hiburan, tetapi juga sikap. Kami percaya langkah ini adalah bagian kecil dari suara kemanusiaan yang lebih besar,” tulis pernyataan resmi La Ngetnik.
Keputusan ini diharapkan menjadi refleksi bagi musisi lain di Indonesia maupun dunia. La Ngetnik mendorong agar para pelaku musik lebih kritis menyikapi relasi dengan platform global yang kerap menimbulkan ketimpangan.
Menurut mereka, dibutuhkan keberanian untuk mengambil keputusan meski berisiko terhadap eksistensi dan popularitas.
La Ngetnik sendiri dikenal sebagai band asal Madura yang kerap bereksperimen dengan bunyi lintas tradisi, modern, dan kontemporer.
Karya-karya mereka banyak dipengaruhi oleh isu sosial, budaya, dan kemanusiaan, menjadikan musik sebagai medium ekspresi sekaligus perlawanan. (dry)
Editor : Amin Basiri