Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Pemkab Sumenep Lestarikan Budaya melalui Festival Tan-pangantanan, Wabup Dewi Khalifah: Kebudayaan Ini Tak Boleh Dilupakan

Fatmasari Margaretta • Minggu, 26 Mei 2024 | 15:10 WIB

 

JADI PERHATIAN: Ribuan warga menyaksikan festival tan-pangantanan di depan rumdin bupati Sumenep, Kelurahan Pajagalan, Kecamatan Kota, Sabtu (25/5). (MOH IQBAL/JPRM)
JADI PERHATIAN: Ribuan warga menyaksikan festival tan-pangantanan di depan rumdin bupati Sumenep, Kelurahan Pajagalan, Kecamatan Kota, Sabtu (25/5). (MOH IQBAL/JPRM)

SUMENEP, RadarMadura.id – Pemerintah Kabupaten Sumenep mengadakan Festival Tan-pangantanan Sabtu (25/5). Kegiatan ini diikuti 43 lembaga pendidikan dari tingkat TK dan SD.

Perinciannya, jenjang TK 25 kontingen dan SD sebanyak 18 kontingen.

Sekolah ini perwakilan dari 20 kecamatan wilayah daratan. Tujuannya, merawat dan melestarikan kebudayaan Kota Keris.

Peserta yang terdiri dari siswa tersebut berdandan layaknya sepasang pengantin dengan menggunakan busana khas Sumenep.

Mereka berjalan sambil membawa makanan tradisional, sembako, dan hasil tani seperti orang yang hendak seserahan lamaran.

Siswa tampil dengan beragam busana adat pernikahan yang ada di Sumenep. Mulai dari lamaran hingga resepsi.

Mereka berjalan dari Jalan Jenderal Sudirman atau depan rumdin bupati menuju menuju Jalan Dr Soetomo depan Labang Mesem Keraton Sumenep, Kelurahan Pajagalan.

Gelaran Festival Tan-pangantanan kali ini merupakan tahun kedua. Sebab, tahun lalu juga dilaksanakan kegiatan yang sama.

Namun, lokasinya diletakkan di Pantai Lombang, Kecamatan Batang-Batang.

Wakil Bupati Sumenep Dewi Khalifah mengatakan, Festival Tan-pangantanan penting untuk digelar setiap tahun.

Sebab, ini merupakan kebudayaan Sumenep yang tidak boleh dilupakan. Kebudayaan ini harus terus dilestarikan dan dikenalkan kepada generasi penerus.

Tan-pangantanan ini merupakan budaya Sumenep yang perlu dilestarikan. Ini sudah ada sejak dulu, saat itu dikenal dengan dhe’ nong dhe’ ne’ nang ,” katanya.

Menurut Nyai Eva, jika festival ini terus dilestarikan, generasi muda sulit melupakan.

Sebab, mereka sudah diperkenalkan kebudayaan tersebut sejak dini.

Maka dari itu, para pihak harus terus menjaga kebudayaan ini agar tidak ditinggalkan.

”Festival ini bagian dari calender of event Sumenep yang harus terus dilaksanakan,” paparnya.

Menurut dia, banyak sisi positif yang bisa didapatkan dalam pergelaran tersebut. Di antaranya, dapat mengangkat perekonomian warga sekitar.

”Makanya, hal ini penting untuk terus kita semarakkan bersama. Kegiatan ini juga bisa mengangkat roda perekonomian pelaku UMKM Sumenep,” tukasnya. (iqb/bil)

Editor : Fatmasari Margaretta
#Berdandan #sejak dini #pengantin #kebudayaan #festival #pernikahan #perekonomian #kota keris #lamaran #Daratan #generasi penerus