RadarMadura.id – Ikut mengamati keseharian para perawat di poli kesehatan jiwa, Daily Dose of Sunshine memang tak mudah ditonton saat kondisi mental sedang goyah.
Tapi, ini series empatik nan edukatif yang bagus sekali untuk memahami pergulatan pengidap mental illness, cara menghadapi mereka, tips dan trik merawat mental health, serta stigma masyarakat yang membuat banyak penderitanya memilih denial ketimbang meminta bantuan.
Tak hanya memperkaya wawasan, drakor ini juga membuat kita merasakan ragam emosi dari riang, murung, terharu, marah, sampai nyaman seperti pelukan hangat dari orang terkasih. Menonton drakor ini juga akan membuat kita merasa didengarkan, dipahami, dan dikuatkan.
Baca Juga: Dump Truck Bermuatan Batu Kumbung Terperosok ke Jurang Bekas Galian C, Kok Bisa Nyungsep?
Sepanjang 12 episode dengan durasi rata-rata 60 menit, series ini secara bergantian mengupas jenis-jenis mental illness dengan tingkatan yang beragam. Yakni, bipolar, delusi, panic attack, skizofrenia, BPD, sampai depresi.
Tentunya dengan karakter utamanya sebagai studi kasus. Ada yg sadar betul kalau kesehatan jiwanya terganggu, tapi sebagian besar digambarkan masih awam soal penyakit ini bahkan denial sekalipun tanda-tandanya sudah terpampang jelas.
Nada penceritaannya memang sering kali ceria mewakili aura Da-eun yg dimainkan riang, bersemangat dan simpatik oleh Park Bo-young. Seluruh karakter intinya pun orang-orang baik yang pengalaman merawat dan mengalami sendiri gangguan mental.
Hal itu membentuk mereka menjadi pribadi dengan perspektif hidup yang lebih kaya, toleran sekaligus penuh welas asih. Itulah mengapa kita akan merasa tenang, bahkan tak jarang bercucuran air mata menyaksikan kepedulian pada rekan kerja, keluarga, sahabat, orang yang dicinta, bahkan pasien.
Tapi mengingat pokok bahasannya dikulik cukup dalam (ada visualisasi buat gambarin seperti apa gelap & rumitnya isi kepala pengidap mental illness, self harm, dan suicide), series ini juga terasa berat khususnya bagi yang sensitif maupun masih struggling.
Sejak episode 5, keceriaannya perlahan memudar digantikan oleh nuansa lebih kelam, sendu sekaligus depresif mengikuti narasi yang fokus pada sisi tergelap dari penderita yang lenyap harapan, tubuh terlalu lelah, damn jiwa tak sanggup lagi berjuang. Alhasil satu pertanyaan pun terbentuk, untuk apa aku hidup?
Penonton dijamin suka dengan gambaran pengidap mental illness secara akurat dan empatik yang tak hanya bercerita dari POV perawat.
Tapi, pengidapnya justru dokter, maupun orang-orang awam yang menganggap penyakit tersebut bisa dilenyapkan dengan kalimat Semangat, ya! atau Sabar.
Satu pendekatan yang memberi ragam perspektif tak hanya membuka mata soal mental health, tapi juga membuat kita belajar memahami dan menghargai orang lain. Jadi, tontonlah!
Hal yang menarik dari Daily Dose of Sunshine adalah sesi konseling bersama psikiater. Singkat, tapi berisi. Tak jarang dibagikan pula tips dan trik untuk merawat kesehatan mental maupun apa yang harus dilakukan saat kambuh.
Series ini sudah bisa kamu tonton di Netflix, ya!
Editor : Fatmasari Margaretta