RadarMadura.id - Aviary Park tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata keluarga, tetapi juga sebagai rumah bagi berbagai spesies burung langka.
Di balik keindahan taman ini, tersimpan upaya konservasi serius untuk melindungi burung yang populasinya terus menurun.
Banyak pengunjung datang tanpa menyadari betapa berharganya satwa yang mereka lihat.
Salah satu burung paling langka di Aviary Park adalah Jalak Bali, ikon konservasi Indonesia yang nyaris punah di alam liar.
Burung ini memiliki bulu putih bersih dengan lingkar mata biru mencolok.
Kehadirannya menjadi simbol keberhasilan penangkaran terkontrol.
Burung langka berikutnya adalah Cendrawasih Kuning Kecil, yang dikenal sebagai burung surga dari Papua.
Warna bulunya yang mencolok sering membuat pengunjung terpukau.
Namun, perburuan liar dan kerusakan habitat membuat populasinya semakin terancam.
Aviary Park juga merawat Kakatua Jambul Kuning, burung cerdas yang kini sulit ditemui di habitat aslinya.
Burung ini sering menjadi target perdagangan ilegal karena kemampuannya menirukan suara. Perlindungan ketat menjadi kunci kelangsungan hidupnya.
Spesies langka lain yang jarang disadari pengunjung adalah Nuri Talaud.
Burung endemik Sulawesi Utara ini memiliki warna merah menyala yang khas. Sayangnya, jumlahnya di alam terus menyusut drastis.
Tak kalah penting, Elang Flores juga menjadi koleksi konservasi Aviary Park.
Burung pemangsa ini hanya hidup di wilayah tertentu Indonesia.
Populasinya menurun akibat alih fungsi lahan dan perburuan.
Selain itu, ada Maleo, burung unik yang bertelur menggunakan panas alami tanah.
Burung ini menghadapi ancaman serius karena rusaknya lokasi bertelur alami.
Atviary Park berperan dalam edukasi pengunjung tentang keunikan Maleo.
Kehadiran tujuh burung langka ini menegaskan peran Aviary Park sebagai pusat edukasi dan konservasi.
Wisata tidak hanya soal hiburan, tetapi juga kesadaran lingkungan.
Setiap kunjungan berarti dukungan nyata untuk menjaga satwa hampir punah tetap lestari.
Editor : Amin Basiri