RadarMadura.id - Di balik sejuknya udara pegunungan dan hamparan hijau yang menenangkan, Desa Gubugklakah di Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, tumbuh menjadi destinasi wisata yang memikat hati.
Tak hanya menjadi jalur utama menuju Gunung Bromo, desa ini kini dikenal sebagai desa wisata mandiri dengan perpaduan keindahan alam, agrowisata, dan budaya masyarakat yang hangat.
Di setiap sudutnya, Gubugklakah menghadirkan panorama yang menyegarkan mata.
Air terjun Coban Pelangi dengan pelangi alaminya, Ledok Amprong dengan aliran sungainya yang jernih, hingga kebun apel yang bisa dipetik langsung dari pohonnya — semuanya menciptakan pengalaman wisata yang autentik dan penuh kesan.
Baca Juga: CPNS 2025: 400 Ribu Kursi ASN Segera Dibuka, Siapkah Lulusan Muda Berebut Peluang Emas Ini?
Dari Gubuk Pisang hingga Desa Wisata Berprestasi
Asal-usul nama Gubugklakah menyimpan kisah menarik. Dalam cerita lokal, kata gubuk berasal dari tempat tinggal sederhana yang dahulu dibuat dari batang pisang, sedangkan klakah merujuk pada bambu belah yang digunakan sebagai bahan bangunan.
Dari situlah lahir nama Gubugklakah, yang secara harfiah berarti “gubuk dari klakah”.
Sekitar tahun 2008, kehidupan masyarakat di desa ini masih bergantung pada hasil hutan dan pertanian apel.
Pariwisata belum dikenal. Namun titik balik datang ketika sekelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) hadir dan memperkenalkan gagasan pemberdayaan masyarakat melalui pariwisata.
Enam belas pemuda desa bergabung dalam gerakan itu dan membentuk Lembaga Desa Wisata (Ladesta) Gubugklakah, yang resmi berdiri pada 20 Agustus 2010.
Upaya mereka tak selalu mudah, namun semangat pantang menyerah membuahkan hasil. Ketika jalur wisata Bromo dari Malang dibuka pada 2012, wajah Gubugklakah pun berubah total.
Kini, warga tak lagi hanya bertani, melainkan juga menjadi pemandu wisata, pengelola homestay, dan pelaku UMKM pariwisata.
Gubugklakah bertransformasi dari desa pertanian menjadi desa wisata berkelanjutan yang menginspirasi banyak wilayah lain di Indonesia.
Letak dan Lanskap Alam Gubugklakah yang Menakjubkan
Terletak di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut, Desa Gubugklakah berjarak kurang dari satu jam dari pusat Kota Malang. Udara sejuk berkisar 18–24°C menjadikannya tempat ideal untuk agrowisata dan rekreasi alam.
Kawasan ini berada di jalur utama menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), sehingga kerap menjadi titik persinggahan wisatawan sebelum melanjutkan perjalanan ke Bromo.
Sungai Amprong mengalir di tengah desa, menjadi sumber kehidupan sekaligus destinasi petualangan.
Lereng pegunungan, kebun apel yang rapi, dan hutan pinus di sekitarnya menghadirkan lanskap hijau yang menenangkan. Kombinasi geografis ini menjadikan Gubugklakah sebagai surga kecil di kaki Bromo.
Destinasi Wajib di Gubugklakah
1. Coban Pelangi
Air terjun setinggi 110 meter ini menjadi ikon wisata utama desa. Pada pukul 10.00–14.00 WIB, pantulan sinar matahari memunculkan pelangi alami yang memesona.
Fasilitas wisata seperti musala, gazebo, dan area parkir membuatnya nyaman untuk dikunjungi keluarga.
2. Coban Trisula dan Coban Bidadari
Bagi pecinta trekking dan eksplorasi alam, kedua air terjun ini menawarkan keheningan dan keasrian khas pegunungan.
Coban Trisula memiliki tiga tingkat air terjun yang menantang, sementara Coban Bidadari dikenal karena suasananya yang tenang dan eksotis.
3. Ledok Amprong
Area wisata alam ini menyajikan keindahan Sungai Amprong yang jernih dengan aktivitas river tubing, berkemah, dan outbond alam.
Cocok bagi keluarga yang ingin menikmati keindahan sungai dan udara pegunungan secara langsung.
4. Agrowisata Apel dan Susu Sapi Perah
Wisatawan bisa memetik apel langsung dari pohonnya sambil belajar tentang pengolahan sari apel, keripik apel, dan susu segar dari sapi perah lokal. Aktivitas edukatif ini semakin diminati oleh wisatawan keluarga dan sekolah.
5. Budaya Lokal dan Tradisi Tengger
Warga Gubugklakah masih mempertahankan tradisi suku Tengger, mulai dari kesenian bantengan, bahasa lokal, hingga pakaian adat.
Meski tak selalu ditampilkan rutin, interaksi langsung dengan masyarakat memberi pengalaman budaya yang berkesan.
Jejak Prestasi Desa Wisata Gubugklakah
Ketekunan dan kerja keras warga berbuah manis. Beberapa penghargaan bergengsi telah diraih desa ini, antara lain:
-
Masuk 300 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021
-
Juara 3 Desa Wisata Nasional 2014
-
Ladesta Gubugklakah dinobatkan sebagai Kelompok Sadar Wisata Terbaik Nasional
Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa semangat gotong royong mampu mengubah wajah desa menjadi ikon pariwisata berkelas nasional.
Tips dan Panduan Berkunjung ke Desa Gubugklakah
Akses:
Dari Kota Malang, rute terbaik menuju Gubugklakah adalah melalui Kecamatan Tumpang – Wringinanom – Poncokusumo. Jalanan menanjak dan berkelok, namun seluruh rute sudah beraspal dan menyuguhkan panorama pegunungan yang indah.
Tiket:
Harga tiket masuk Coban Pelangi berkisar Rp 10.000–Rp 15.000, sedangkan aktivitas di Ledok Amprong bervariasi sesuai wahana yang dipilih.
Waktu Terbaik:
Pagi hingga siang hari adalah waktu ideal untuk berkunjung agar bisa menikmati pemandangan cerah dan fenomena pelangi di air terjun.
Persiapan:
Bawa pakaian hangat, alas kaki nyaman, dan obat pribadi. Beberapa jalur menuju lokasi wisata cukup menantang sehingga perlu stamina yang baik.
Baca Juga: CPNS 2025: 400 Ribu Kursi ASN Segera Dibuka, Siapkah Lulusan Muda Berebut Peluang Emas Ini?
Penutup: Desa Gubugklakah, Bukti Bangkitnya Wisata Lokal di Kaki Bromo
Desa Gubugklakah bukan sekadar pintu menuju Bromo, melainkan destinasi hidup yang memadukan alam, budaya, dan semangat warganya.
Dari air terjun hingga kebun apel, dari tradisi lokal hingga prestasi nasional — semuanya menyatu dalam harmoni.
Gubugklakah menjadi cerminan bagaimana desa kecil di lereng gunung bisa bersinar di panggung pariwisata Indonesia, membuktikan bahwa keindahan sejati lahir dari kerja keras dan kecintaan terhadap tanah sendiri. (hasan)
Editor : Hasan Bashri