RadarMadura.id — Liburan akhir tahun bisa jadi momen sempurna untuk menjelajahi keajaiban alam yang belum banyak tersentuh.
Di ujung barat Sukabumi, Geopark Ciletuh menawarkan petualangan menakjubkan menelusuri jejak bumi purba berusia jutaan tahun.
Kawasan ini bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga laboratorium alam terbuka yang menyimpan kisah tentang bagaimana Pulau Jawa terbentuk.
Dari atas perahu kayu yang mengarungi Teluk Ciletuh, lautan biru dan tebing-tebing batu menjadi latar megah perjalanan menuju pulau-pulau bersejarah, yaituMandra, Kunti, hingga Karang Kontol.
Setiap titik punya cerita, baik ilmiah maupun mitos, yang membuat pengalaman berlayar di Ciletuh terasa seperti menembus waktu.
Karang Kontol, Simbol Keberanian Laut Ciletuh
Menjelang senja, perjalanan laut berakhir di sebuah batu besar yang menonjol gagah dari permukaan laut yang dikenal warga sebagai Karang Kontol.
Bentuknya yang unik terbentuk akibat abrasi air laut dan angin selama jutaan tahun.
Menurut warga, karang ini berusia sekitar 60 juta tahun, bagian dari sejarah geologi raksasa yang membentuk kawasan Ciletuh.
Bagi masyarakat setempat, karang ini bukan sekadar batu tua, tetapi juga simbol kekuatan dan keajaiban alam.
Di balik nama yang nyentrik, tersembunyi pesan tentang keyakinan, keberanian, dan hubungan manusia dengan laut yang menjadi sumber kehidupan mereka.
Gua Purba Pulau Kunti, Dikenal Sebagai “Gua Anti Jomblo”
Tak jauh dari Karang Kontol, terdapat gua purba yang menjorok ke laut—bagian dari Pulau Kunti.
Gua ini terbentuk akibat hantaman ombak yang terus-menerus selama jutaan tahun, menciptakan rongga alami sedalam sekitar 15 meter dengan tinggi mencapai 9 meter.
Menariknya, warga sekitar menyebutnya Gua Anti Jomblo. Konon, siapa pun yang masuk ke dalamnya akan segera menemukan jodoh.
Meski hanya mitos, daya tarik unik ini membuat banyak wisatawan datang bukan hanya untuk menikmati keindahan alamnya, tetapi juga untuk sekadar berfoto dan “menguji keberuntungan cinta” mereka.
Pulau Mandra, Nama dari Kisah Salah Dengar
Sebelum mencapai Pulau Kunti, wisatawan akan melewati Pulau Mandra, sebuah daratan kecil yang tenang dengan air laut berwarna hijau muda.
Pulau ini punya kisah menarik tentang asal-usul namanya. Konon, sebutan “Mandra” berasal dari kesalahpahaman antara nelayan Bugis dan penduduk Sunda setempat.
Meski berawal dari cerita rakyat sederhana, Pulau Mandra kini menjadi salah satu ikon wisata bahari di Teluk Ciletuh.
Beberapa nelayan masih menjadikannya tempat beristirahat atau memancing, sementara wisatawan menikmati pemandangan laut yang menenangkan di bawah cahaya soreBaca Juga: Eksplor Geopark Ciletuh! Surga Purba Sukabumi dengan Keindahan Pulau Kunti, Gua Anti Jomblo, dan Karang Legendaris
Pulau Kunti, Batu yang “Tertawa”
Selain gua purba, Pulau Kunti juga terkenal dengan formasi batuan basal atau lava bantal, peninggalan aktivitas gunung api purba di dasar laut sekitar 60 juta tahun silam.
Di sisi tertentu, batuan berongga di pulau ini akan mengeluarkan suara mirip tawa saat dihantam ombak besar. Dari fenomena inilah nama “Kunti” konon berasal.
Keunikan geologinya menjadikan Pulau Kunti bagian penting dari Geopark Ciletuh yang diakui UNESCO.
Di sinilah pengunjung dapat menyaksikan langsung lapisan sejarah bumi yang masih berdiri tegak dalam bentuk batu-batu megah di tepi laut.
Wisata Edukasi dan Spirit Geopark Ciletuh
Bagi pencinta wisata alam, Geopark Ciletuh bukan hanya tempat untuk menikmati pemandangan, tapi juga ruang belajar terbuka.
Setiap pulau dan batuan di kawasan ini memiliki makna ilmiah yang menjelaskan perjalanan panjang bumi dari masa prasejarah.
Pemandu lokal yang paham sejarah geologi kawasan menjadi jembatan penting antara pengetahuan ilmiah dan kearifan lokal.
Dari cerita mereka, pengunjung belajar bahwa Ciletuh bukan sekadar destinasi wisata, melainkan warisan geologi dunia yang harus dijaga.
Rekomendasi Liburan Akhir Tahun di Sukabumi
Mengakhiri tahun dengan petualangan ke Ciletuh adalah pilihan yang sempurna. Selain menikmati pemandangan alam dan legenda setempat, wisatawan bisa berlayar dengan perahu kayu seharga sekitar Rp40 ribu–Rp50 ribu per orang.
Perjalanan singkat menuju pulau-pulau purba ini memberikan pengalaman spiritual dan edukatif sekaligus, cocok untuk melepas penat akhir tahun.
Saat matahari tenggelam di balik tebing batu, laut berubah warna menjadi keemasan, menciptakan pemandangan yang tak mudah dilupakan.
Di sinilah keajaiban sejati Ciletuh terasa—pertemuan antara sains, mitos, dan keindahan alam yang abadi.
Editor : Fadila An Naila