RadarMadura.id — Sukabumi kini menyimpan satu lagi destinasi yang memikat perhatian wisatawan—Pantai Cempaka Ratu di Kecamatan Cikakak.
Pantai ini semakin populer sebagai tempat menepi dan menikmati keindahan alam yang masih asri di jalur Palabuhanratu menuju Banten.
Pesonanya yang tenang berpadu dengan kisah lokal dan nilai spiritual yang membuat siapa pun ingin berlama-lama di sini.
Saat matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, guratan jingga menyapu langit Cempaka Ratu.
Ombak berkejaran menuju karang, pecah menjadi buih putih yang memantulkan cahaya senja.
Dari sela pepohonan pandan laut yang tumbuh rapat di tepi pantai, sinar matahari sore masuk menciptakan siluet yang menghadirkan suasana damai dan syahdu.
Baca Juga: Liburan Ala Desa! 5 Destinasi Wisata Indonesia yang Bikin Kamu Rindu Ketentraman dan Keaslian Budaya
Setiap akhir pekan, kawasan ini mulai ramai didatangi wisatawan.
Mobil dan motor berjajar di jalan setapak menuju pantai, menjadi pemandangan khas sore hari.
Sejumlah keluarga duduk santai di bebatuan besar, anak-anak bermain di bibir pantai, sementara para remaja sibuk mengabadikan momen dengan latar langit oranye keemasan.
Popularitasnya kian meningkat berkat unggahan di media sosial yang menampilkan pesona laut selatan Sukabumi ini.
Meski demikian, Pantai Cempaka Ratu bukan sekadar destinasi untuk berfoto atau berwisata singkat.
Ada nilai yang dijaga dan diwariskan oleh masyarakat setempat.
Bagi warga Cikakak, pantai ini memiliki makna spiritual dan sejarah yang kuat.
Mereka percaya bahwa Cempaka Ratu merupakan tempat untuk merenung, bersyukur, dan menjaga harmoni dengan alam.
Nama “Cempaka Ratu” sendiri berasal dari kisah lama tentang sebuah pohon cempaka besar yang konon menjadi simbol keagungan dan ketenangan.
Hingga kini, nama itu tetap lestari dan menjadi identitas pantai ini.
Keindahan yang tersaji bukan hanya dari panorama lautnya, melainkan juga dari keteduhan dan energi alami yang menyelimuti kawasan tersebut.
Tokoh masyarakat setempat bahkan menegaskan bahwa Cempaka Ratu bukanlah tempat untuk kesombongan atau kesenangan yang berlebihan.
Dulu sempat ada upaya menjadikan kawasan ini sebagai pusat hiburan malam, namun akhirnya tidak bertahan lama.
Bagi warga, pantai ini lebih pantas menjadi ruang untuk beribadah dan menyatu dengan alam.
Menghabiskan sore di Cempaka Ratu terasa seperti perjalanan spiritual.
Saat angin laut berhembus lembut dan debur ombak terdengar berulang, setiap pengunjung diajak merenungi kebesaran Tuhan yang tersirat dari alam.
Laut yang luas, langit yang berubah warna, dan pepohonan yang tenang menjadi saksi betapa indahnya ciptaan Sang Pencipta.
Kini, Cempaka Ratu tak hanya menjadi tempat pelarian dari hiruk-pikuk kota, tetapi juga simbol kesadaran untuk menjaga keindahan alam.
Wisatawan diharapkan datang tidak hanya untuk menikmati pemandangan, melainkan juga membawa pulang pesan agar keindahan ini tetap lestari.
Di setiap senja yang jatuh di ufuk Cempaka Ratu, tersimpan makna tentang ketenangan, syukur, dan keseimbangan.
Pantai ini bukan sekadar destinasi wisata, melainkan ruang refleksi yang mengajarkan bahwa keindahan sejati selalu lahir dari hati yang mampu mensyukurinya.
Editor : Hasan Bashri