RadarMadura.id - Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali menawarkan pesona alam yang sarat dengan nilai budaya dan kisah legenda yang memikat.
Salah satu destinasi eksotik yang kini menarik perhatian adalah Bukit Fatukopa, sebuah bukit kapur megah yang berada di Kecamatan Fatukopa, Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Sekilas, Bukit Fatukopa tampak seperti bukit biasa. Namun, bentuk puncaknya yang menyerupai perahu menjadikannya pusat perhatian, terlebih karena kisah turun-temurun yang menyebutkan bahwa bukit ini adalah sisa bahtera Nabi Nuh.
Legenda ini hidup dari generasi ke generasi tanpa kepastian asal muasalnya, namun begitu kuat melekat dalam benak masyarakat Timor.
Sebuah tulisan dari Christin Takain, mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menyebut bahwa bukit tersebut diyakini sebagai lokasi karamnya kapal Nabi Nuh setelah menerjang banjir besar.
Baca Juga: Terungkap! 5 Pantai Rahasia di Madura yang Lebih Cantik dari yang Kamu Bayangkan!
Bentuk puncaknya yang memanjang dan menyerupai lambung kapal menguatkan kepercayaan ini. Terlepas dari benar tidaknya kisah tersebut, legenda tersebut telah menciptakan aura sakral pada Bukit Fatukopa.
Tak hanya sebagai simbol kisah religius, Bukit Fatukopa juga diyakini sebagai tempat asal muasal leluhur orang Timor.
Suku Dawan, salah satu suku terbesar di wilayah NTT, menganggap bukit ini sebagai tanah keramat.
Karena itu, tidak sembarang orang dapat mendaki ke puncaknya. Hanya ketua adat atau tokoh masyarakat tertentu yang diperbolehkan melakukan persembahan kepada leluhur di sana.
Bagi wisatawan luar yang ingin menjelajahi kawasan ini, harus mengikuti prosesi adat yang disebut ritual persembahan.
Ritual ini dilakukan bersama seorang usif, atau raja/pemimpin adat setempat, dan bertujuan meminta izin serta perlindungan dari para leluhur.
Prosesnya meliputi pembakaran lilin, penyajian minuman tradisional sopi, hingga penyembelihan ayam kampung yang kemudian disantap bersama di lokasi yang disebut Pohon Batu Fatukopa.
Masyarakat percaya bahwa Bukit Fatukopa dijaga oleh makhluk spiritual berupa seekor kuda, ular, dan sekelompok kera berwajah manusia.
Fosil kuda bahkan diyakini ada di sisi selatan bukit, sementara ular dan kera hanya muncul di hadapan orang-orang yang “dipilih.” Legenda ini menambah kuatnya larangan untuk mendaki tanpa restu, karena pendaki bisa saja mengalami kesulitan hingga kecelakaan jika melanggarnya.
Uniknya, kearifan lokal yang memuliakan alam lewat legenda-legenda ini justru membantu menjaga kelestarian Bukit Fatukopa.
Vegetasi alami tetap tumbuh subur, biota tidak terusik, dan tidak ada penjarahan dari tangan-tangan tak bertanggung jawab.
Bagi wisatawan yang ingin menyaksikan keindahan Bukit Fatukopa dari kejauhan, bisa berkemah di Bukit Besteke.
Lokasi ini menyuguhkan panorama langsung ke arah Fatukopa tanpa harus melanggar adat. R
ute ke sana cukup menantang namun menyenangkan: dari Jakarta ke Kupang naik pesawat dengan tarif berkisar Rp1,7 juta–2,3 juta, dilanjutkan perjalanan darat ke Soe sejauh 108 km, lalu menuju Bukit Besteke sejauh 68 km lagi dengan waktu tempuh 2–3 jam.
Tidak ada biaya masuk untuk berkemah di Bukit Besteke. Namun, pengunjung perlu membawa perlengkapan sendiri dan membayar Rp5.000 untuk sewa kamar mandi serta Rp20.000 untuk parkir.
Baca Juga: Kades Cawe-cawe Proyek APBD, Mencuat Praktik Sewa Bendera untuk Menangkan Tender
Karena tidak ada pagar pengaman atau petunjuk lokasi, wisatawan diimbau ekstra hati-hati dan memastikan kendaraan siap menghadapi medan berat.
Jangan lupa bawa pakaian cadangan jika ingin trekking atau berenang di sekitar lokasi.
Dengan legenda yang menyatu dengan alam dan adat istiadat yang tetap dijaga, Bukit Fatukopa bukan sekadar tempat wisata.
Ia adalah simbol kearifan lokal yang sukses melindungi alam lewat cerita. Sebuah bukit dengan nuansa sakral, yang mengajak kita merenung sekaligus mengagumi kekayaan budaya Indonesia Timur. (fadila)
Editor : Fadila An Naila