RadarMadura.id— Di tengah arus modernisasi kuliner yang kian pesat, nagasari tetap memikat hati para pecinta jajanan tradisional.
Kue berbahan dasar tepung dan pisang ini tak hanya menggugah selera, tetapi juga menyimpan warisan budaya yang tak lekang oleh waktu.
Nagasari dikenal luas sebagai salah satu kudapan khas Nusantara yang kerap hadir dalam berbagai acara, mulai dari hajatan hingga hidangan berbuka puasa.
Dibungkus dengan daun pisang dan dikukus hingga matang, nagasari menyuguhkan cita rasa manis dan gurih yang lembut di lidah.
Membuat nagasari ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Bahan-bahannya pun cukup sederhana dan mudah didapat di pasar tradisional.
Untuk satu resep nagasari, dibutuhkan lima buah pisang kepok matang, 200 gram tepung terigu, 30 gram tepung tapioka, dan 500 mililiter santan.
Sebagai penambah rasa, ditambahkan 75 gram gula pasir, setengah sendok teh garam, setengah sendok teh vanili, serta selembar daun pandan untuk memperkaya aroma.
Langkah pertama dalam proses pembuatan adalah mencairkan campuran tepung terigu dan tapioka dengan sebagian santan.
Aduk hingga larut sempurna tanpa gumpalan. Sementara itu, sisa santan direbus bersama gula pasir, daun pandan, garam, dan vanili hingga mendidih.
Setelah santan mendidih, campuran tepung dimasukkan perlahan sambil terus diaduk agar adonan tidak bergerindil.
Ketika tekstur sudah mengental dan rata, adonan siap untuk dibungkus.
Gunakan daun pisang yang telah dibersihkan sebagai pembungkus.
Ambil satu sendok makan adonan, beri irisan pisang di tengahnya, tutup kembali dengan adonan, lalu lipat daun seperti membungkus tempe.
Setelah semua adonan terbungkus, kukus selama kurang lebih 20 menit hingga matang dan mengeluarkan aroma khas nagasari.
Nagasari tidak hanya menggoda dari segi rasa, tapi juga menyehatkan.
Pisang sebagai isian utama mengandung serat tinggi dan kalium, sedangkan proses pengolahan tanpa digoreng menjadikannya pilihan camilan yang lebih sehat.
Dengan resep sederhana dan rasa autentik yang terus dirindukan, nagasari tetap relevan di tengah banyaknya inovasi kuliner kekinian. Kudapan ini bukan sekadar makanan, tetapi juga simbol kehangatan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. (Fadila)
Editor : Fadila An Naila