Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Menyusuri Punggung Naga Hijau: Petualangan di Bukit Watu Jengger Mojokerto

Fadila An Naila • Minggu, 13 April 2025 | 04:13 WIB

Potret Wisata Puncak Watu Jengger Mojokerto
Potret Wisata Puncak Watu Jengger Mojokerto

RadarMadura.id— Di balik gemerlap kota dan hiruk pikuk aktivitas harian, Mojokerto menyimpan sepotong surga tersembunyi yang siap menyihir siapa pun yang mencapainya.

Namanya Watu Jengger—sebuah bukit yang menjulang di kawasan Tahura Raden Soeryo, Dusun Nawangan, Desa Tawangrejo, Kecamatan Jatirejo. Tak hanya sekadar destinasi wisata, Watu Jengger adalah panggilan petualangan bagi jiwa-jiwa yang rindu pada alam.

Kabut, Udara Dingin, dan Gugusan Anjasmoro

Saat mencapai puncaknya, mata akan dimanjakan oleh panorama menakjubkan: gugusan Gunung Anjasmoro yang tampak megah di kejauhan, lautan kabut yang perlahan menari, serta hembusan udara dingin yang menyegarkan paru-paru. Suasana ini seakan membawa pendaki melayang jauh dari realitas, masuk ke dalam dunia lain yang lebih tenang dan alami.

Tak heran jika banyak yang menyebut puncak Watu Jengger mirip dengan Gunung Piramid di Bondowoso. Jalur setapak yang melintasi punggung bukit dengan sisi kanan dan kiri berupa tebing curam membuatnya terasa seperti menyusuri punggung naga hijau yang sedang tertidur.

Bukan Pendaki Profesional? Tenang Saja!

Salah satu kelebihan Bukit Watu Jengger adalah jalurnya yang ramah bagi pemula. Dengan ketinggian sekitar 1.100 mdpl, trek yang dilalui tidak terlalu curam, meski tetap menantang. Namun, perlu kewaspadaan—terutama setelah hujan, karena jalur bisa menjadi licin dan berbatu.

Perjalanan menuju puncak biasanya memakan waktu sekitar dua hingga tiga jam, tergantung stamina. Jika ingin menikmati sunrise, banyak pendaki yang memilih mendirikan tenda di pos dua, lalu melanjutkan perjalanan saat fajar mulai menyingsing.

Akses Mudah, Biaya Terjangkau

Berkendara dari pusat Kota Mojokerto ke Watu Jengger hanya butuh waktu sekitar satu jam. Jalur yang dilalui cukup nyaman: Jalan Raya Brangkal – Gemekan – Lengkong – Domas – Jatirejo-Jabung – Jatirejo-Wonosalam. Setibanya di Dusun Nawangan, pendaki bisa memarkir kendaraan dan langsung memulai petualangan.

Tiket masuknya pun sangat bersahabat—cukup Rp 10.000, ditambah biaya parkir motor sebesar Rp 5.000. Tempat ini dibuka dari pukul 07.00 hingga 20.00 WIB, memberi keleluasaan bagi pengunjung untuk memilih waktu yang pas.

Tidak Ada Warung, Tidak Ada Air—Hanya Alam yang Murni

Satu hal yang wajib diingat: tidak ada warung atau mata air di jalur pendakian maupun di puncak. Karena itu, pastikan membawa bekal yang cukup, terutama air minum. Perjalanan memang sederhana, tapi rasa haus dan lapar bisa merusak kenikmatan panorama yang ada.

Di pos dua, pendaki bebas mendirikan tenda, membuat kopi hangat, dan menyambut malam dengan langit bertabur bintang. Malam di atas sana terasa begitu hening—seolah dunia ikut menunduk diam menyaksikan keindahan alam yang luar biasa.

Baca Juga: Hangatnya Semangkuk Sayur Bening Bayam: Sederhana Tapi Bikin Nagih

Watu Jengger: Tempat yang Tak Akan Sama Dua Kali

Ada sesuatu yang magis di Watu Jengger. Mungkin karena hijaunya pepohonan yang tak pernah identik dari musim ke musim. Mungkin juga karena cara kabut menyelimuti bukit setiap pagi yang selalu berbeda. Atau bisa jadi karena momen-momen kecil yang tak terduga: suara ranting patah, burung yang tiba-tiba lewat, atau hanya angin yang menyapa lembut dari balik jurang.

Watu Jengger bukan sekadar tempat, melainkan pengalaman. Dan seperti semua pengalaman terbaik dalam hidup, ia tak pernah terasa sama meskipun telah dikunjungi berkali-kali. (fadila) 

Editor : Fadila An Naila
#pegunungan #liburan #wisata #seru #mojokerto #Watu Jengger