FOOD & TRAVEL, RadarMadura.id - Naniura adalah salah satu kuliner tradisional paling ikonik dari tanah Batak Toba, yang berasal dari wilayah sekitar Danau Toba, Sumatera Utara.
Nama naniura sendiri memiliki arti "ikan yang tidak dimasak", dan menjadi warisan budaya kuliner yang menunjukkan keunikan cara pengolahan serta kekayaan rasa khas Batak.
Yang membuat naniura begitu istimewa adalah proses penyajiannya yang tak melibatkan api sedikit pun.
Dalam dunia kuliner, ini menjadi daya tarik tersendiri, sehingga naniura kerap dijuluki sebagai “sashimi ala Batak”.
Baca Juga: Cerorot Lombok: Warisan Kuliner dalam Balutan Janur Kerucut
Dahulu, naniura hanya disajikan dalam upacara adat atau untuk para raja Batak, namun kini hidangan ini telah menjadi menu favorit di banyak lapo (rumah makan Batak) dan dinikmati oleh berbagai kalangan.
Proses pembuatan naniura menunjukkan betapa kaya dan kompleksnya tradisi kuliner Batak.
Ikan segar—biasanya ikan mas atau nila—direndam dalam perasan jeruk jungga, sejenis jeruk khas Batak, selama 4 hingga 6 jam untuk melunakkan daging dan menghilangkan bau amis.
Setelah itu, ikan dibumbui dengan rempah-rempah seperti andaliman, asam jungga, dan bunga kecombrang, yang menjadi ciri khas kuliner daerah ini.
Cita rasa naniura sangat khas dan menjadi kekuatan utama dalam kuliner Batak: perpaduan gurih, asam, dan segar.
Sensasi pedas dari andaliman memberi kejutan unik yang hanya bisa ditemukan dalam sajian kuliner ini.
Bagi para perantau Batak, naniura adalah rasa yang selalu dirindukan—rasa yang mengingatkan pada rumah dan tradisi.
Tak hanya lezat, naniura juga mencerminkan nilai budaya dalam kuliner tradisional.
Kepopulerannya bahkan diabadikan dalam lagu daerah Tabo Do Dekke Naniura, menandakan betapa dalamnya hubungan masyarakat Batak dengan hidangan ini.
Kini, naniura telah menjadi bagian dari promosi kuliner daerah ke tingkat nasional.
Bagi pecinta kuliner nusantara yang ingin mencoba sensasi berbeda, naniura bisa dibuat sendiri di rumah.
Dengan resep sederhana dan bahan khas seperti andaliman dan jeruk jungga, siapa pun dapat menikmati kuliner autentik Batak tanpa harus ke Danau Toba.*
Editor : Amin Basiri