RadarMadura.id - Di tengah hiruk-pikuk kuliner modern, cita rasa tradisional tetap punya tempat tersendiri di hati masyarakat.
Salah satunya adalah bubur hintalu karuang, sajian manis khas Kalimantan Selatan yang tak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menyimpan kisah budaya yang kaya.
Jejak Rasa dari Dapur Banjar
Bubur hintalu karuang, yang secara harfiah berarti “bubur telur kelelawar”, bukanlah sajian dengan bahan aneh seperti namanya.
Istilah “hintalu karuang” merujuk pada bentuk bulatan adonan yang menyerupai telur kelelawar, sesuai dengan gaya penamaan khas masyarakat Banjar yang sarat makna.
Bahan Sederhana, Rasa Tak Tertandingi
Untuk membuat satu porsi bubur ini, hanya dibutuhkan dua mangkuk bahan utama. Adonan dibuat dari campuran 6 sendok makan tepung ketan, 3 sendok makan tepung beras, dan sejumput garam.
Air ditambahkan sedikit demi sedikit hingga adonan bisa dipulung dan dibentuk bulat kecil.
Sementara itu, kuah manisnya diracik dari 350 ml air yang direbus bersama 1 keping gula merah, 2 sendok makan gula pasir (yang bisa disesuaikan manisnya), selembar daun pandan, dan sejumput garam.
Setelah mendidih, bulatan adonan dimasukkan ke dalam kuah hingga mengapung—tanda bahwa mereka telah matang sempurna.
Langkah terakhir adalah menambahkan 65 ml santan kental dan 1 sendok makan susu bubuk, menciptakan kekayaan rasa yang legit dan gurih. Setelah semua tercampur dan matang sempurna, bubur hintalu karuang siap disajikan hangat.
Cocok untuk Takjil atau Kudapan Santai
Cita rasa manis gurih dari bubur ini menjadikannya favorit saat bulan Ramadan sebagai menu takjil. Namun di luar itu, bubur hintalu karuang juga cocok dinikmati kapan saja, sebagai teman santai di sore hari sambil menyeruput teh hangat.
Pelestarian Kuliner Lokal Melalui Dapur Rumahan
Di tengah tren kuliner global yang makin cepat, keberadaan makanan tradisional seperti bubur hintalu karuang patut diapresiasi dan dilestarikan.
Membuatnya di rumah tak hanya menyenangkan, tapi juga menjadi upaya nyata menjaga warisan budaya Banjar tetap hidup dari generasi ke generasi. (fadila)
Editor : Fadila An Naila