RadarMadura.id - Di tengah hamparan hijau perbukitan Magelang, Jawa Tengah, berdiri sebuah karya agung yang tak lekang oleh waktu Candi Borobudur.
Dikelilingi oleh suasana tenang, candi ini tidak hanya menjadi saksi bisu dari kejayaan masa lalu, tetapi juga sebuah mahakarya yang terus memikat siapa pun yang melihatnya.
Candi Borobudur, yang terletak tak jauh dari Candi Mendut dan Pawon, menyimpan cerita panjang penuh misteri, kebesaran, dan sejarah yang hingga kini masih dipelajari.
Pada tahun 1991, Candi Borobudur diakui sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO, menegaskan posisinya sebagai salah satu harta yang paling berharga bagi umat manusia.
Namun, kisah candi ini tidak berhenti hanya pada pengakuan internasional. Perjalanan panjang dari pembangunan hingga pemugarannya merupakan cerita yang penuh teka-teki. Lalu, kapan sebenarnya candi ini dibangun, dan siapa arsitek di balik keagungan ini?
Jejak Waktu: Awal Mula Pembangunan Borobudur
Jawaban atas pertanyaan tentang kapan Candi Borobudur didirikan tak mudah ditemukan. Tak ada catatan sejarah yang jelas menyebutkan tanggal pasti pembangunannya.
Namun, para arkeolog sepakat bahwa Borobudur dibangun antara tahun 775 hingga 832 Masehi. Pendapat ini didasarkan pada analisis inskripsi-inskripsi pendek yang terpahat di relief Karmawibhangga, salah satu dari sekian banyak relief yang mengisi dinding candi ini.
Sosok yang diyakini berada di balik pembangunan candi ini adalah Raja
Samaratungga dari Dinasti Syailendra, bersama dengan putrinya, Pramodhawardhani. Penemuan ini diambil dari dua prasasti penting, Prasasti Karang Tengah dan Prasasti Sri Kahulunan.
Keduanya mengungkapkan keterlibatan keluarga kerajaan dalam mendirikan bangunan monumental ini.
Borobudur dirancang sebagai tempat suci bagi umat Buddha yang menganut aliran Mahayana dan Tantrayana, aliran yang juga berkembang di Bengal, India pada abad ke-8.
Aliran ini mengajarkan perjalanan spiritual yang dalam melalui meditasi dan filsafat, sebagaimana terlihat pada susunan teras dan stupa yang merefleksikan tahapan menuju pencerahan.
Dari Gelap Menuju Terang: Penemuan Kembali Candi Borobudur
Candi Borobudur pernah terkubur oleh waktu, hilang dari ingatan manusia selama ratusan tahun, tertutupi oleh lapisan tanah dan vegetasi.
Hingga akhirnya, pada tahun 1814, Sir Thomas Stamford Raffles, gubernur jenderal Inggris saat itu, menerima laporan tentang sebuah situs besar yang tersembunyi di Desa Bumisegoro, Magelang.
Penasaran dengan laporan itu, Raffles menugaskan seorang insinyur Belanda bernama H.C. Cornelius untuk menggali situs tersebut.
Perlahan-lahan, candi yang telah lama terkubur ini mulai muncul kembali ke permukaan. Pada tahun 1835, seorang pejabat Belanda, Hartmann, menginstruksikan anak buahnya untuk membersihkan area candi.
Dalam penggalian tersebut, mereka menemukan arca Buddha yang belum selesai dan berbagai benda berharga lainnya. Namun, penemuan yang lebih menakjubkan terjadi pada tahun 1885, ketika J.W.
Ijzerman menggali bagian dasar candi dan menemukan relief Karmawibhangga relief yang menggambarkan hukum sebab akibat atau karma dalam ajaran Buddha.
Pemugaran: Menyelamatkan Borobudur dari Keruntuhan
Saat pertama kali ditemukan, Borobudur berada dalam kondisi yang sangat buruk. Banyak bagian candi yang rusak, terutama pada tingkatan atasnya.
Pada tahun 1907, Th van Erp, seorang insinyur Belanda, memulai pemugaran besar-besaran untuk menyelamatkan candi ini dari keruntuhan total.
Pemugaran ini berlangsung selama empat tahun, hingga pada tahun 1911, stupa-stupa yang hancur berhasil disusun kembali.
Namun, alam tak berhenti merusak Candi Borobudur. Pada 1970-an, kondisi candi kembali memburuk akibat erosi dan pelapukan alami. UNESCO, bersama pemerintah Indonesia, kembali berkolaborasi untuk melakukan pemugaran kedua.
Proyek ini dipimpin oleh Prof. Dr. R. Soekmono dan Ir. Rooseno yang bertanggung jawab atas aspek teknis. Pemugaran tersebut berlangsung selama 10 tahun, dari 1973 hingga 1983, dan candi ini diresmikan kembali oleh Presiden Soeharto pada Februari 1983.
Keagungan Borobudur: Arsitektur yang Menggambarkan Filsafat
Melangkah ke dalam kompleks Candi Borobudur, kita akan disambut oleh pemandangan yang luar biasa.
Bangunan ini berbentuk bujur sangkar dengan ukuran total 123 x 123 meter, terdiri dari 10 tingkat yang menjulang setinggi 42 meter hingga puncaknya yang bermahkotakan stupa besar. Setiap tingkatan memiliki filosofi mendalam yang mencerminkan ajaran Buddha.
Tingkat pertama, Kamadhatu, dipenuhi relief Karmawibhangga yang menggambarkan kehidupan manusia dalam lingkaran karma.
Tingkat kedua hingga keenam, Rupadhatu, dipenuhi dengan berbagai relief yang menceritakan perjalanan hidup Buddha, termasuk Lalitavistara dan Jataka.
Sementara itu, tingkat ketujuh hingga kesepuluh, Arupadhatu, adalah tempat di mana stupa-stupa besar berdiri kokoh, menggambarkan pencapaian tertinggi menuju pencerahan.
Candi Borobudur tak hanya menjadi tempat suci bagi umat Buddha, tetapi juga simbol kejayaan masa lalu yang harus dilestarikan.
Menjaga warisan ini adalah tanggung jawab kita bersama, agar keagungannya tetap terjaga dan bisa dinikmati oleh generasi-generasi mendatang.
Candi Borobudur adalah bukti nyata bahwa masa lalu memiliki cara tersendiri untuk tetap hidup di masa kini. (fadila)
Editor : Fadila An Naila