RadarMadura.id — Sebuah bangunan besar berdiri megah di lereng Gunung Merapi, tak jauh dari Goa Jepang, menyimpan lebih dari sekadar sejarah.
Vila Putih Kaliurang, dulunya tempat peristirahatan orang Belanda, kini menjadi saksi bisu dari masa lalu yang menggoda imajinasi.
Setelah ditinggalkan oleh para penjajah, bangunan ini berpindah tangan ke kraton Yogyakarta, kemudian menjadi balai pertemuan.
Namun, sejak bencana erupsi Merapi pada tahun 1994, Vila Putih terbengkalai, ditinggalkan oleh waktu dan menghadapi keruntuhan akibat dampak alam.
Tak hanya dikenal sebagai bangunan bersejarah, Vila Putih Kaliurang juga merajut kisah-kisah mistis yang membuat bulu kuduk merinding.
Pesanggrahan Sarjanawiyata Taman Siswa yang pernah indah, kini menjadi tempat penuh mitos horor, menarik minat wisatawan pencari sensasi.
Julukan "Urban Legend" melekat pada bangunan ini, mencuatkan cerita seram di antara bangunan-bangunan tua Yogyakarta. Ketika masuk ke dalam area ini, atmosfer mencekam terasa, terutama saat pagi menjelang atau ketika kabut mulai menyelimuti.
Di masa lalu, vila ini dimiliki oleh seorang guru besar UGM, Profesor Soedomo, sebelum berpindah kepemilikan ke Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa.
Di tengah pohon pinus yang menjulang, kehadiran vila ini semakin menyeramkan saat senja datang dan kabut menyelimuti.
Tak heran, Vila Putih Kaliurang menarik perhatian di media sosial.
Bangunan ini menjadi daya tarik bagi pengguna Instagram yang mencari foto unik, namun tetap terpesona oleh aura misterius yang menyelimutinya.
Dengan segala cerita dan misterinya, Vila Putih Kaliurang tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya Yogyakarta.
Meskipun terbengkalai, keberadaannya mengundang rasa ingin tahu dan ketertarikan akan misteri di balik dinding-dinding bersejarah tersebut. (hasan)
Editor : Hasan Bashri