RadarMadura.id — Di Yogyakarta, sebuah tempat menyimpan banyak cerita mistis, di antaranya adalah wisata Vila Putih Kaliurang.
Terletak di lereng Gunung Merapi, tepat di samping Goa Jepang, Vila Putih menjadi saksi bisu masa lalu yang kini tenggelam dalam aura misteri.
Awalnya, vila ini adalah tempat peristirahatan bagi orang Belanda. Namun, sejak mereka meninggalkan Indonesia, Vila Putih diambil alih oleh kraton Yogyakarta untuk digunakan sebagai balai pertemuan.
Namun, sejak 27 tahun yang lalu, tepatnya saat erupsi Merapi pada tahun 1994, bangunan ini ditinggalkan dan terbengkalai.
Kerusakan akibat erupsi serta dampak wedhus gembel membuatnya semakin terlupakan.
Vila Putih Kaliurang tidak hanya dikenal sebagai bangunan bersejarah, tetapi juga sebagai tempat mistis yang penuh dengan kisah-kisah mencekam.
Pesanggrahan Sarjanawiyata Taman Siswa yang dulunya indah, kini telah diramaikan dengan cerita-cerita horor dan mitos yang membuatnya menjadi objek wisata mistis.
Bangunan ini bahkan telah meraih julukan "Urban Legend", menjadi salah satu dari beberapa bangunan tua di Yogyakarta yang dipercayai memiliki aura angker.
Saat memasuki area ini, suasana mencekam terasa, terutama di pagi hari atau menjelang maghrib yang disertai kabut tebal.
Banyak kisah seram tertinggal di sini, terutama bagi para alumni UGM dari masa lalu.
Dulu, sekitar tahun 1953, vila ini dimiliki oleh seorang guru besar UGM, Profesor Soedomo. Kini, kepemilikannya telah beralih ke Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa.
Meskipun terletak di tengah pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi, suasana sekitar vila menjadi semakin mencekam ketika senja menjelang dan kabut mulai turun.
Belakangan ini, Vila Putih Kaliurang menjadi sorotan di media sosial.
Bangunan ini menjadi daya tarik bagi para pencinta foto Instagram karena arsitekturnya yang unik dan keberadaan pohon pinus yang membingkai vila. Meskipun begitu, aura mistisnya tetap tidak terbantahkan.
Dengan segala cerita dan misterinya, Vila Putih Kaliurang tetap menjadi bagian dari warisan budaya dan sejarah Yogyakarta yang patut dilestarikan.
Meski terbengkalai, keberadaannya tetap mengundang rasa ingin tahu dan ketertarikan dari para pengunjung yang ingin merasakan sensasi mistis di balik bangunan-bangunan bersejarah tersebut. (hasan)
Editor : Hasan Bashri