RadarMadura.id – Surabaya memiliki beragam destinasi yang memiliki sejarah panjang yang terkait dengan nilai-nilai heroisme sejak zaman dulu.
Namun, selain itu Surabaya juga memiliki sejarah tempat-tempat yang dapat dibilang horor dan mistis, karena peninggalan zaman yang sampai saati ini masih ada, salah satunya adalah Penjara Kalisosok.
Penjara Kalisosok Surabaya dibangun pada zaman VOC, atau sekitar tahun 1800-an yang sudah puluhan tahun lamanya, penjara itu tak lagi digunakan.
Penjara Kalisosok yang dikenal gagah dan mewah pada zamannya itu, kini menyisakan bangunan tua yang tak terawat, dengan kesan klasiknya masih ada, namun kesan angker juga turut menyelimuti bangunan itu.
Ada cerita mistis yang berkembang di masyarakat mengenai kesan angker di bangunan eks Penjara Kalisosok.
Ada sesorang warga yang mengaku pernah melihat perempuan Belanda berpakaian ala dokter atau perawat, masuk ke eks Penjara Kalisosok.
Bangunan eks Penjara Kalisosok ada di sebelah utara Jalan Rajawali dan Kembang Jepun, Surabaya, dan bangunan ini sudah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemkot Surabaya.
Selain itu, Penjara Kalisosok ada sejarahnya yang kelam, yaitu menjadi saksi bisu atas penderitaan para narapidana yang disiksa dan dikurung di dalamnya.
Namun, yang membuatnya lebih menyeramkan adalah keberadaan ruangan bawah tanah yang terkenal di seluruh Indonesia.
Ternyata, penjara Kalisosok memiliki reputasi yang mengerikan karena ruang bawah tanahnya yang sempit dan menyiksa.
Sebuah tempat di mana 20 orang pun dipaksa untuk menampung 80 orang atau lebih, dengan dinding-dindingnya begitu tebal sehingga dianggap tidak dapat dipaku, dengan ruang penyiksaan yang menggambarkan betapa mengerikannya tempat ini.
Sehingga dengan kondisinya yang mengerikan, Penjara Kalisosok dianggap sebagai penjara paling menyeramkan di seluruh Indonesia.
Bahkan, beberapa tokoh penting pernah dipenjarakan di sana, seperti Presiden Soekarno, HOS Tjokromainoto, WR Supratman, dan Kyai Haji Mas Mansyur.
Meskipun kini telah terbengkalai dan tidak digunakan lagi selama puluhan tahun, bangunan penjara ini masih berdiri di tepi jalan dengan penampilan yang terkikis oleh usia.
Sejarahnya yang kelam dan penderitaan yang terjadi di dalamnya memberikan aura mencekam yang sulit untuk dilupakan. (andrian)
Editor : Achmad Andrian F