SAMPANG, RadarMadura.id – Keindahan tanaman mangrove di Desa Marparan, Kecamatan Sreseh, Sampang, dimanfaatkan oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Rampak Naong menjadi destinasi wisata.
Keindahan wisata alam yang dikonsep mengelilingi hutan Mangrove memikat ketertarikan wisatawan untuk berkunjung.
Bendahara Pokdarwis Rampak Naong, Desa Marparan, Sreseh, Sampang, Maratus Soleha mengatakan, sebelumnya wisata mangrove di desanya hanya sebatas tracking atau jembatan jalan setapak biasa.
Namun karena banyak mangrove dengan berbagai jenis, akhirnya dikembangkan oleh pokdarwis.
Menurutnya, ada beberapa jenis mangrove yang tumbuh secara alami yang ada di WMS tersebut.
Di antaranya, jenis mangrove api-api (avicennia), pepada (sonneratia), bakau (rhizophora), lacang (bruguiera), xylocarpus atau biasa disebut nyirihdan.
”Semua berbagai jenis mangrove ada di WMS desa kami ini,” terangnya.
Dijelaskan, untuk memikat wisatawan, pihaknya melakukan inovasi untuk mempercantik dan memperindah wisata.
Yakni, dengan membuat spot foto di beberapa titik dengan bermacam nuansa.
Di antaranya, dengan latar belakang sungai, payung bergelantungan, rumah pohon, ayunan, dan sebagainya.
”Kami juga sediakan bebek apung, mandi bola, 10 gazebo, dan aula rapat di tengah mangrove yang bisa digunakan untuk kegiatan besar. Yang menjadi daya tarik wisatawan datang juga salah satunya karena masih harus menyeberangi sungai dengan menaiki kapal kecil,” ujarnya.
Menurutnya, sebelum dikembangkan menjadi wisata mangrove, destinasi wisata tersebut dikenal dengan destinasi wisata kuliner.
Sebab, aneka olahan kuliner yang disajikan banyak memikat selera pengunjung.
”Mulai dari olahan kepiting saus tiram, bandeng bakar, dan sebagainya banyak disukai. Meski telah menjadi wisata mangrove, ini tetap kami pertahankan untuk memikat selera pengunjung,” paparnya.
Selama ini pengunjung paling ramai di momentum tertentu. Seperti momen liburan, Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha.
Dalam sehari, ketika ramai, bisa tembus 1.000 pengunjung. ”Paling jauh pengunjungnya dari Malaysia,” terangnya.
Pihaknya berharap tempat wisata yang dikelola terus mampu memikat ketertarikan wisatawan untuk berkunjung.
Sebab, WMS saat ini menyerap tenaga kerja sebanyak 25 karyawan pemuda desa.
”Sehingga, dapat memberikan peluang pekerjaan pada warga Desa Marparan,” jelasnya. (bai/jup)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Berta SL Danafia