Oleh FATMASARI MARGARETTA
Libur Idul Fitri rasanya kurang lengkap jika tak mencicipi kue khas Lebaran. Sebab, kue Lebaran tidak dapat dipisahkan dari tradisi masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, setiap orang pasti menyajikan camilan berupa kue di rumahnya ketika Lebaran tiba. Seperti pettola goreng dan kue kering yang tentu saja tak asing lagi bagi warga Madura, khususnya Bangkalan.
PETTOLA goreng dan kue kering adalah camilan ringan yang renyah, gurih, dan selalu bikin ketagihan.
Kue jadul ini sangat identik disajikan saat hari raya. Untuk mendapatkannya, banyak yang membeli atau membuatnya sendiri di rumah.
Namun dengan membuatnya sendiri, tentu lebih hemat, lebih lezat, dan tentu saja lebih puas karena akan menjadi camilan favorit yang dinikmati oleh banyak orang.
Pettola goreng, atau sebagian ada yang menyebut pattola, termasuk kue kering tradisional.
Jajanan bertekstur garing dan renyah dengan rasa gurih manis ini memang cocok menjadi kudapan untuk teman minum teh maupun kopi.
Nah, ini yang membuat petolla goreng menjadi hidangan yang kerap ditemui saat Lebaran.
Karena jajanan ini mulai langka, seorang pembuat kue asal Bangkalan, Nurhayati, biasa membuat pettola goreng jelang Lebaran.
Bagi perempuan berusia 53 tahun ini, menjual pettola goreng menjadi suatu keberkahan baginya saat Ramadan.
Menurut Nurhayati, pettola goreng selalu laris manis karena ketahanannya yang lumayan lama dan harganya yang terjangkau bagi semua kalangan.
Jika disimpan dalam wadah tertutup, pettola goreng bisa tahan hingga dua minggu. Jadi, bisa jadi hidangan di meja atau dibawa mudik ke luar kota dalam beberapa hari.
Meski terlihat sederhana, cara pembuatan pettola goreng terbilang susah-susah gampang. Sebab, adonan harus tercampur sempurna dan tidak boleh lembek.
”Adonan yang terlalu lembek akan sulit dicetak. Kalau dipaksakan, adonan pettola akan menggumpal dan susah untuk digoreng,” ujar perempuan yang sudah delapan tahun malang melintang dalam dunia kue Lebaran ini.
Selain pettola goreng, Nurhayati juga kebanjiran kue kering seperti goodtime mete, kastengel, dan nastar keju.
Dia pasti mendapat orderan kue kering itu dalam jumlah banyak. Untuk pettola goreng, para pelanggannya cukup merogoh kocek Rp 85 ribu per kilogram.
Sementara untuk kue kering dibanderol antara Rp 140 ribu sampai Rp 175 ribu per kilogram.
”Karena harganya terjangkau, banyak yang minat. Selain pettola goreng, kue kering yang paling banyak dicari yakni kastengel dan nastar.
Bahkan, mereka memesan jauh-jauh hari sebelum Lebaran, takut kehabisan stok,” kata Nurhayati.
Perempuan paro baya asal Kelurahan Pangeranan itu memberikan sedikit tips dalam pembuatan pettola goreng.
Menurutnya, adonan sebaiknya jangan terlalu lama didiamkan agar kualitas pettola goreng bagus.
”Sebab, itu berpengaruh pada hasil pettola setelah digoreng. Aromanya wangi, teksturnya bagus, dan tentunya bikin nggak berhenti ngunyah,” katanya sembari tertawa.
Nurhayati menuturkan, pettola goreng dan kue kering sebaiknya segera disimpan di wadah yang tertutup dan kedap udara. Sehingga, saat Lebaran tiba, rasanya tidak berubah dan tetap renyah. (*/luq)
*)Editor Bahasa JPRM
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti