RadarMadura.id — Pulau Madura kini memiliki daya tarik baru bagi wisatawan, khususnya generasi milenial. Sebuah kampung wisata bernama Kampoeng Toron Samalem menawarkan nuansa Jepang yang eksotis dan instagramable.
Kampung wisata ini terletak di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Dulunya, kawasan ini adalah tempat batu bata besar yang belum terpakai.
Namun, berkat kreativitas dan kerjasama warga setempat, kawasan ini berubah menjadi destinasi wisata yang menarik.
Baca Juga: Silancur Highland, Surga Wisata Alam dengan Fasilitas Lengkap dan Tiket Masuk Murah Meriah
Salah satu daya tarik utama dari Kampoeng Toron Samalem adalah pohon sakura yang bermekaran di sepanjang jalan dan jembatan.
Pohon sakura ini bukan berasal dari Jepang, melainkan dari jenis bunga tabebuya yang berwarna merah muda. Namun, dari jauh, pohon-pohon ini tampak seperti sakura asli yang indah.
Selain pohon sakura, kampung wisata ini juga menyediakan berbagai spot foto yang menarik, seperti gubuk-gubuk ala Jepang, lampion, payung, dan lain-lain. Pengunjung bisa berfoto sepuasnya di sini dan membagikannya ke media sosial.
Baca Juga: Kebun Bunga, Rumah Hobbit, dan Gardu Pandang, Daya Tarik Silancur Highland yang Wajib Dikunjungi
Tak hanya menawarkan keindahan alam, Kampoeng Toron Samalem juga memiliki cerita sejarah yang menarik. Menurut legenda, kampung ini pernah menjadi tempat singgah putri Kerajaan Sumenep yang bernama Potre Koneng. Putri yang cantik dan terkenal ini pernah bersemedi di kampung ini untuk mencari ketenangan.
Kampoeng Toron Samalem dibuka untuk umum sejak tahun 2018. Untuk mencapai kampung wisata ini, pengunjung harus menempuh perjalanan sekitar 3 jam dari Surabaya. Tiket masuk ke kampung wisata ini cukup terjangkau, yaitu Rp 15.000 per orang.
Bagaimana, apakah Anda tertarik untuk mengunjungi Toron Samalem? Jangan lewatkan kesempatan untuk merasakan sensasi berlibur ala Jepang di Pulau Madura. (fadila)
Baca Juga: Tak Perlu Mahal, Dataran Tinggi Silancur Tawarkan Pemandangan dan Fasilitas yang Memuaskan
Editor : Ina Herdiyana