RadarMadura.id – Pulau Arnavat yang baru-baru ini ditemukan di perairan Kabupaten Demak menarik perhatian banyak orang.
Menurut Dr Handoko Teguh Wibowo, seorang pakar geologi dan pengurus Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), ada dua kemungkinan yang menyebabkan munculnya pulau tersebut.
Pulau Arnavat terletak di Dukuh Deling, Desa Surodadi, Kecamatan Sayung, Demak.
Dikutip dari detikJateng pada Senin (22/1), Handoko mengatakan bahwa pulau tersebut bisa jadi merupakan hasil dari pergerakan tektonik atau tekanan endogen dari dalam bumi.
Dia menjelaskan bahwa pulau tersebut tidak mungkin terbentuk karena proses alamiah di pantai seperti ombak atau arus yang membentuk gundukan pasir.
Dia menilai, bentuk dan geometri pulau itu menunjukkan bahwa pulau tersebut lebih mungkin terjadi karena tektonik.
Dia mengatakan, ini adalah kemungkinan pertama. Dia juga mengatakan bahwa daerah pantai utara Demak dan sekitarnya cenderung mengalami penurunan permukaan.
Hal itu menyebabkan sebagian permukaan yang lain mengalami kenaikan.
Handoko menjelaskan, hal tersebut berkaitan dengan zona sesar, di mana ada bagian yang turun dan ada bagian yang naik.
Handoko menduga, pulau itu adalah bagian yang naik. Dia juga mengatakan bahwa gempa bisa menjadi faktor pemicu, baik yang terjadi sekarang maupun yang akan terjadi nanti.
Dari citra satelit, dia melihat bahwa pantai utara Jawa cenderung turun sehingga menyebabkan beberapa daerah seperti Semarang, Demak, dan Pekalongan tergenang air.
Kemudian, kemungkinan kedua adalah pulau tersebut muncul karena adanya aktivitas endogen dari dalam bumi.
Dia menuturkan, di Jepang hal itu bisa terjadi karena adanya gunung api yang muncul ke permukaan.
Namun, di Demak, hal itu bukan karena gunung api, melainkan bisa jadi karena gunung lumpur.
Pulau tersebut bisa jadi merupakan cikal bakal gunung lumpur yang menekan tanah dari bawah ke atas sehingga tanah itu naik.
Dia menambahkan, fenomena pulau tersebut tidak menimbulkan ancaman bagi kondisi pesisir.
Pulau tersebut bukan merupakan tanda akan terjadi gempa, melainkan hanya efek dari pergerakan bumi.
Gempa itu sendiri memiliki berbagai macam gerakan seperti naik, turun, atau geser dan pulau tersebut kebetulan merupakan bagian yang naik.
Kenaikan tersebut tidak terlalu signifikan dan amplitudonya juga kecil. Kenaikan tersebut terjadi secara perlahan dan baru terlihat setelah empat tahun.
Dia juga menambahkan bahwa tidak perlu khawatir berlebihan karena hal itu. (fadila)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Ina Herdiyana