Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Raja Brawijaya V, Raja Terakhir Majapahit yang Moksa di Gunung Lawu

Hasan Bashri • Kamis, 18 Januari 2024 | 00:41 WIB

Ilustrasi raja Brawijaya V
Ilustrasi raja Brawijaya V

RadarMadura.id – Brawijaya V adalah raja terakhir Kerajaan Majapahit yang memerintah dari tahun 1468 hingga 1478.

Ia adalah putra dari Prabu Bratanjung, dan memiliki banyak selir dan anak, di antaranya Raden Patah, Batara Katong, Arya Damar, dan Bondan Kejawen.

Brawijaya V menghadapi berbagai tantangan dan konflik selama masa pemerintahannya, baik dari dalam maupun dari luar kerajaan.

Ia juga menyaksikan perubahan besar di Nusantara, yaitu masuknya agama Islam yang dibawa oleh para ulama dan wali.

Pada akhir hayatnya, Brawijaya V memutuskan untuk meninggalkan tahta dan pergi ke Gunung Lawu untuk mencari ketenangan rohani.

Gunung Lawu adalah salah satu gunung suci di Jawa, yang terletak di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Di sekitar Gunung Lawu terdapat Candi Sukuh dan Candi Cetho, yang menunjukkan ikatan erat dengan Kerajaan Majapahit.

Gunung Lawu juga memiliki tiga puncak, yaitu Hargo Dalem, Hargo Dumiling, dan Hargo Dumilah.

Ketiga puncak ini diyakini sebagai tempat paling sakral di tanah Jawa, dan sering dikaitkan dengan legenda Brawijaya V.

Menurut cerita rakyat, Brawijaya V pergi ke Gunung Lawu setelah mendengar kabar bahwa Raden Patah, putranya yang memeluk Islam, sedang memimpin penyerbuan ke Majapahit.

Brawijaya V ingin meminta bantuan dari kerajaan Bali untuk melawan Raden Patah. Namun, dalam perjalanan, ia bertemu dengan Sunan Kalijaga, salah satu wali yang berusaha mengislamkannya.

 

Sunan Kalijaga berhasil meyakinkan Brawijaya V untuk tidak melanjutkan niatnya ke Bali, dan mengajaknya untuk bertapa di Gunung Lawu.

Di Gunung Lawu, Brawijaya V melakukan dialog legendaris dengan Sunan Kalijaga.

Ia meminta Sunan Kalijaga untuk mengasuh anak cucunya, terutama Bondan Kejawen yang akan menjadi leluhur raja-raja Mataram.

Ia juga meramalkan bahwa Bondan Kejawen akan menurunkan pemimpin tanah Jawa.

Setelah dialog itu, Brawijaya V melanjutkan pertapaannya di puncak Gunung Lawu yang bernama Hargo Dalem.

Di sana, ia melakukan proses moksa, yaitu melepaskan diri dari ikatan dunia dan mencapai kesempurnaan rohani.

Moksa Brawijaya V di Hargo Dalem merupakan akhir dari kejayaan Majapahit dan awal dari perkembangan Islam di Nusantara.

Hingga kini, Hargo Dalem masih dianggap sebagai tempat bersemayamnya roh Brawijaya V. Namun, misteri menghilangnya jasad atau makam Brawijaya V tidak pernah terpecahkan.

Ada yang mengatakan bahwa ia dimakamkan di Trowulan, bekas ibukota Majapahit.

Ada juga yang mengatakan bahwa ia tidak meninggalkan jasad atau makam sama sekali. (hasan

 

Editor : Hasan Bashri
#gunung lawu #raja #Brawijaya #sejarah #Majapahit