Siang itu, matahari menyengat. Peziarah, satu per satu tiba di rumah duka. Keranda putih yang tertutup kain hijau bertuliskan kaligrafi sudah siap diberangkatkan. Tak banyak kata yang bermunculan di antara peziarah. Semua mata tertuju pada keranda itu. Sebuah kesedihan yang tertahan dalam Doa Suci mengiringi sang maestro menemui pencipta-Nya.
MOH. JUNAIDI, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura
DALAM satu kesempatan di televisi, Imam mengungkapkan, tak seorang pun yang tahu langkahnya dalam satu detik ke depan. Kalimat itu sepertinya menjadi gambaran dan pedoman hidup penyanyi sekaligus pencipta ratusan lagu dangdut bertema cinta itu.
Ya, Imam Sunaryo Arifin, penyanyi masyhur dengan suara emasnya mampu menembus belantara musik dangdut tanah air. Meskipun, dalam puncak karirnya, Imam S. Arifin harus menemui musibah besar. Penyanyi Ancor Pessena Tellor itu harus berurusan dengan hukum karena kasus narkoba.
Hal itu bukan berarti sosok yang satu ini tidak punya sisi baik sama sekali. Adik perempuannya, Indriawati menuturkan, Imam adalah sosok yang sangat penyayang. Meski namanya masyhur di Ibu Kota, tak lantas melupakan keluarga di desa.
”Banyak hal yang saya ingat dari Mas Imam. Dia kakak kandung saya yang sangat menyayangi adik dan keluarganya,” terang Indriawati usai prosesi pemakaman, Sabtu (18/12).
Imam pulang ke tanah kelahirannya setelah bebas dari penjara. Imam yakin, bahwa kampung halaman bisa mengobati segala tekanan lahir dan batinnya. Tapi sayang, kepulangannya justru menjadi kisah terakhir baginya.
Hari-hari terakhir Imam di Sumenep, selain untuk terapi, dia lebih banyak menghabiskan waktu berkunjung dan menemui kawan-kawan lamanya. Bahkan, Imam kerap menyanyi di beberapa kafe di Sumenep. ”Hampir tiap hari Mas Imam dijemput teman-teman lamanya,” terangnya.
Sebenarnya, Imam belum sembuh total dari stroke ringan yang menyerangnya saat masih di dalam penjara. Di samping itu, pria dengan tiga anak itu juga terkena penyakit submandibular atau yang lebih dikenal dengan sebutan kelenjar getah bening.
Sebelum meninggal, Imam berencana operasi. Sebab, khawatir akan mengganggu pita suaranya. Menurut Iin, sapaan akrab Indriawati, beberapa job datang ditawarkan kepadanya. ”Tapi, saya tidak mengizinkan, karena Mas Imam belum sembuh total. Meskipun memang terlihat bugar,” katanya.
Iin mengaku memanjakan kakaknya untuk memotivasi agar penyanyi dengan puluhan album itu sembuh. Semua yang dibutuhkan dan diminta kakaknya dituruti. ”Ya, butuh apa saja, beli ini, beli itu, saya belikan,” ungkapnya.
Tapi siapa sangka, semua yang diminta Imam ternyata merupakan yang terakhir. Imam wafat pada Jumat (17/12). Sontak, kepergian Imam menyisakan luka mendalam bagi Iin dan Gatot Yusriadi.
Sementara itu, pasca proses pemakaman kakaknya, Gatot tak terlalu banyak bicara. Dia terlihat belum seutuhnya rela melepas Imam S. Arifin. ”Saya tidak menyangka, kepulangannya ke Kalianget adalah untuk selama-lamanya,” tambah Gatot.
Sementara itu, prosesi pemakaman Imam dihadiri langsung orang-orang terkasihnya, yakni Nana Mardiana (mantan istri) dan Dinda (anaknya). Nana mengaku terkejut mendengar kabar bahwa Yang Tersayang itu meninggal dunia.
Semula Nana mengaku heran ketika mendengar Imam memilih pulang ke Madura. ”Mas Imam hanya bilang ingin tenang, dan berobat di desanya sendiri. Bahkan, tidak senang jika diingatkan dengan musibah yang menimpanya,” terang Nana.
Saat pemakaman berlangsung, tangis Nana pecah, sesenggukan, seolah menegaskan satu kata ”jangan tinggalkan, Nana”. Tapi, pemilik Pengadilan Cinta itu sudah harus istirahat selamanya. Doa Suci yang teriring, melambai jauh di antara guguran kamboja. Nana tersungkur ke batu nisan di belakang dari tempatnya berdiri.
Sejujurnya, Nana berharap mantan kekasihnya itu sembuh dan kembali menghibur penggemarnya. Tapi, umur tak siapa pun bisa mengetahuinya. Bahkan, tak satu pun jiwa yang tahu di bumi mana ia akan menemui mautnya.
”Ya, saya berharap memang Mas Imam sembuh. Karena semua penggemarnya kangen suara dan Senandung Rembulan-nya, tapi takdir berkata lain,” ucap Nana.
Demikian juga dialami Dinda, anak semata wayang Imam S. Arifin dari rahim perempuan asal Medan, Sumatera Utara itu. Dinda yang belum lama melihat wajah ayahnya, harus rela melepasnya lagi, tapi tidak untuk sementara. Bahkan, terdengar jelas anak gadis itu berkali-kali memanggil ayahnya saat tanah perlahan-lahan menutupi tempat pembaringan Imam.
Saking sedihnya, Dinda menolak diwawancara wartawan yang turut hadir siang itu. Kalau bukan melalui ibu tercintanya, barangkali JPRM tak berhasil berbincang dengan Dinda. Bagi Dinda, Imam adalah segalanya. ”Jelas, beliau ayah yang istimewa dan sangat kami cintai,” katanya.
Dari ratusan lagu yang dicipta Imam S. Arifin, sebagai anaknya, Dinda sangat menyukai judul Yang Tersayang. Selain memang dinyanyikan bersama ibunya, lagu itu bagi Dinda sangat merepresentasikan cinta dalam keluarganya. ”Yang Tersayang. Mungkin karena nyanyinya sama mama,” tambahnya singkat.
Tak banyak informasi yang diberikan Dinda. Maklum, kepergian ayahnya sangat memilukan. Dinda, kaku mengucap pesan dari ayahnya. ”Jangan lupa salat. Itu pesan ayah, dan berkali-kali diucapkan,” jelasnya.
Kepergian Imam, mungkin tidak hanya meyisakan luka di hati mereka saja. Semua penggemarnya sangat berduka. Imam akan selalu hidup di hati mereka, dalam satu Potret Kenangan.
Editor : Abdul Basri