Semangat pahlawan perempuan Raden Ajeng Kartini tak hanya diperingati setiap 21 April. Di Pamekasan, semangat itu tumbuh dalam keseharian legislator perempuan Ansari.
ANGGOTA Komisi VIII DPR RI itu menjadi salah satu yang merasakan langsung denyut tersebut. Sebelum melangkah ke Senayan, Ansari mengabdikan diri sebagai guru PAUD selama kurang lebih 14 tahun.
Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan banyak ibu rumah tangga yang mengantar anaknya ke sekolah dengan penuh harapan. Dalam keterbatasan, mereka tetap berupaya memberi pendidikan terbaik bagi anak-anaknya.
”Dari situ saya melihat, perempuan punya peran besar dalam keluarga, terutama dalam pendidikan anak,” ujar anggota dewan fraksi Partai Demokrasi Indonesia Pembangunan (PDIP) itu.
Menurut dia, peran perempuan tidak hanya berhenti di ranah domestik. Dalam praktiknya, banyak perempuan juga terlibat langsung dalam menopang ekonomi keluarga. Namun, kontribusi tersebut kerap belum diiringi dengan pengakuan dan perlindungan yang memadai.
Baca Juga: Kelanjutan Pembangunan Los Pasar Hewan Tidak Jelas
Sebagai kader Partai Wong Cilik, Ansari menekankan pentingnya kebijakan yang berpihak pada perempuan, khususnya di lapisan akar rumput. Dia mengaku banyak belajar dari Megawati Soekarnoputri terkait pentingnya menghadirkan keadilan sosial melalui kebijakan negara.
Namun, di lapangan tantangan perempuan masih cukup kompleks. Selain akses pendidikan, persoalan lain seperti perlindungan dari kekerasan dan penguatan ekonomi keluarga juga menjadi perhatian.
”Perempuan itu sebenarnya manajer utama dalam keluarga. Mereka mengatur banyak hal, tapi sering tidak terlihat,” tutur istri Ketua DPC PDIP Pamekasan Taufadi itu.
Karena itu, Ansari menilai kehadiran negara perlu lebih konkret. Kebijakan diharapkan tidak hanya bersifat normatif, tetapi benar-benar menyentuh kebutuhan perempuan di tingkat bawah.
Perjalanan Ansari dari guru PAUD hingga menjadi anggota DPR RI menjadi gambaran bahwa peran perempuan terus berkembang. Dari ruang pendidikan dasar, kini dia terlibat dalam perumusan kebijakan di tingkat nasional.
Bagi Ansari, peringatan Hari Kartini bukan sekadar seremoni. Dia menyebutnya sebagai pengingat bahwa perjuangan perempuan masih berlangsung hingga saat ini.
”Semangat Kartini harus terus hidup dalam kehidupan sehari-hari, terutama di akar rumput,” pungkasnya. (*/yan)
Editor : Amin Basiri