Buka dan sahur selama Ramadan bukan sekadar urusan makan dan minum. Bagi Ketua DPRD Sumenep Zainal Arifin, Ramadan juga menjadi momentum merawat tradisi keluarga, termasuk dalam memilih menu di meja makan. Salah satunya, air zamzam yang selalu hadir sebagai pembuka.
KETUA DPRD Sumenep Zainal Arifin memiliki kebiasaan khusus selama menjalankan ibadah di bulan suci Ramadan.
Di tengah kesederhanaan menu berbuka dan sahur, ia mengaku tidak pernah melewatkan air zamzam sebagai sajian pembuka.
Dia menuturkan, menu makanan selama bulan suci cenderung sederhana, khas hidangan desa. Namun, air zamzam menjadi minuman yang wajib tersedia di meja makan keluarga karena diyakini membawa keberkahan tersendiri.
"Sepanjang Ramadan, buka dan sahur pasti didahului dengan air zamzam dan kurma,” tuturnya.
Dia menjelaskan, pasokan air zamzam diperolehnya secara rutin setiap tiga bulan sekali dari rekan-rekan mutawif yang berada di Makkah.
Kiriman tersebut memang dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sehingga stoknya tetap terjaga, khususnya saat Ramadan.
"Setiap buka dan sahur kami dahulukan dengan minum air zamzam dan memakan kurma,” jelasnya.
Menurutnya, tradisi tersebut sudah berlangsung lama dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari rutinitas Ramadan di keluarganya.
Sementara untuk menu makanan, politikus PDI Perjuangan itu tetap mempertahankan nasi jagung sebagai makanan pokok selama Ramadan.
"Kesukaan bapak dan ibu saya adalah nasi jagung. Selama Ramadan dipastikan saya berbuka dengan nasi jagung,” ucapnya.
Untuk pilihan lauk-pauk, dia lebih memilih ikan laut sebagai konsumsi utama. Menurutnya, ikan laut terasa lebih ringan dan tidak terlalu berdampak pada kondisi tubuh selama berpuasa.
"Ada beberapa makanan yang sengaja saya hindari, seperti udang dan cumi-cumi. Makanan itu berpotensi memicu kolesterol dan asam urat, sehingga saya memilih menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah puasa,” tandasnya. (tif/han)
Editor : Amin Basiri