RadarMadura.id - Vision 2030 menunjukkan keberanian politik Muhammad bin Salman yang jarang dimiliki pemimpin Timur Tengah lain.
Namun keberanian itu juga disertai risiko besar. Pembangunan kota futuristik tanpa ekosistem ekonomi yang matang berpotensi melahirkan monumen ambisi, bukan pusat pertumbuhan.
Masalah Arab Saudi bukan kekurangan dana, melainkan keterbatasan institusi, budaya kerja, dan kepercayaan global.
Uang bisa membangun gedung dalam semalam, tetapi membangun talenta, reputasi, dan iklim kebebasan membutuhkan waktu jauh lebih panjang.
Jika Visi 2030 ingin bertahan, Saudi tak cukup hanya mengubah lanskap fisik negaranya.
Yang lebih mendesak adalah mengubah cara mengambil keputusan, membuka ruang kritik, dan membangun ekonomi yang benar-benar hidup tanpa bergantung pada suntikan negara.
Analisis mendalam mengenai ambisi, tantangan, dan risiko Visi 2030 ini dibahas dalam video dokumenter di kanal YouTube Basboii.
Video tersebut mengurai bagaimana ketergantungan pada belanja negara, sentralisasi keputusan di tangan MBS, serta persoalan sosial dan hak asasi manusia berpotensi menjadikan Visi 2030 sebagai proyek paling mahal—dan paling spekulatif—dalam sejarah pembangunan modern.
???? Video lengkap: https://youtu.be/_NjaV5lc5_Q
???? Channel: https://www.youtube.com/@basboii
NEOM dan The Line: Ikon Ambisi yang Tersandung
Proyek paling simbolik dari Visi 2030 adalah NEOM, megacity futuristik senilai awal US$ 500 miliar, diluncurkan pada 2017. Di dalamnya terdapat proyek paling ambisius sekaligus kontroversial: The Line.
The Line digambarkan sebagai kota sepanjang 170 kilometer, setinggi 500 meter, berlapis kaca reflektif, tanpa mobil, dan mampu menampung 9 juta penduduk. Proyek ini disebut membutuhkan hampir 20 persen produksi baja dunia.
Namun realitas berkata lain.
-
Target dipangkas drastis: Fase awal The Line menyusut dari 170 km menjadi hanya 2,4 km—pemotongan 98,5 persen.
-
Populasi merosot: Target 9 juta penduduk kini diperkirakan hanya 300 ribu orang pada 2030.
Masalah utama terletak pada sentralisasi pengambilan keputusan.
Muhammad bin Salman disebut mengendalikan hampir seluruh keputusan strategis, meski tanpa latar belakang teknik atau perencanaan kota. Kritik internal kerap diabaikan.
Bahkan arsitek awal The Line, Thomas Payne, dilaporkan dilarang menyampaikan kekhawatiran soal biaya dan kelayakan.
Perusahaan konsultan global seperti McKinsey pun menuai sorotan, dituding sekadar “memoles angka” demi kontrak bernilai ratusan juta dolar.
Akibatnya, estimasi biaya NEOM membengkak dari US$ 500 miliar menjadi US$ 8,8 triliun—setara 25 kali lipat anggaran tahunan Arab Saudi.
Pertumbuhan Ekonomi yang Semu
Pemerintah Saudi kerap menyoroti peningkatan PDB non-minyak sebagai bukti keberhasilan Visi 2030. Angka tersebut memang naik, namun para ekonom memberi catatan penting.
Pertumbuhan non-minyak sebagian besar didorong oleh belanja negara melalui Public Investment Fund (PIF). Dana minyak dialihkan ke proyek konstruksi raksasa—bukan ke sektor swasta produktif.
Jika belanja pemerintah dihentikan, PDB non-minyak berpotensi turun tajam. Artinya, diversifikasi ekonomi belum benar-benar terjadi.
Yang ada baru pemindahan uang dari sektor minyak ke proyek-proyek yang belum jelas return on investment (ROI)-nya.
Siapa yang Mau Tinggal dan Bekerja di Sana?
Membangun kota futuristik tidak otomatis membuat orang ingin tinggal di dalamnya. Arab Saudi menghadapi tantangan serius dalam menarik talenta global.
Secara sosial, banyak profesional kelas dunia memiliki nilai liberal—sementara Saudi masih memberlakukan hukum perwalian pria, pembatasan kebebasan sipil, dan regulasi sosial yang ketat.
Dari sisi hak asasi manusia, catatan Saudi juga bermasalah. Negara ini masih mencatat tingkat eksekusi tinggi dan sistem ketenagakerjaan migran (kafala) yang kontroversial.
Laporan menyebut hingga 21.000 pekerja migran meninggal selama proses pembangunan NEOM.
Di dalam negeri, Saudi juga menghadapi krisis keterampilan. Kualitas pendidikan STEM dinilai belum memadai, sementara budaya kerja sektor publik lama dianggap kurang produktif akibat ketergantungan panjang pada subsidi negara.
Olahraga dan Pariwisata: Membeli Citra
Arab Saudi mencoba membangun daya tarik global lewat olahraga dan hiburan. Mereka mendanai LIV Golf, mengakuisisi klub, serta mendatangkan bintang sepak bola seperti Cristiano Ronaldo dan Neymar dengan biaya fantastis.
Namun hasilnya terbatas.
Rata-rata kehadiran penonton liga Saudi hanya sekitar 8.000 orang, jauh di bawah Premier League yang mencapai 40.000. Rating siaran televisi di pasar Barat juga rendah.
Masalahnya sederhana: sejarah dan keterikatan komunitas tidak bisa dibeli.
Di sektor pariwisata, jumlah pengunjung memang meningkat menjadi 30 juta orang pada 2024, namun lebih dari 60 persen adalah jemaah haji dan umrah.
Wisatawan non-religi masih ragu karena batasan budaya, larangan alkohol, dan aturan sosial yang ketat. ***
Editor : Abdul Basri