Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Pulau Pagerungan Besar Penghasil Migas yang Tak Kekurangan Air Bersih, Selain Sumur-sumur Warga, Perusahaan Suplai 40 Ton Tiap Hari

Hera Marylia Damayanti • Jumat, 19 Desember 2025 | 22:00 WIB
AIR BERSIH: Warga mengisi galon dengan air bersih dari tandon 11 di Jalan 1, Dusun 2, Desa/Pulau Pagerungan Besar, Kecamatan Sapeken, Sumenep, Rabu (10/12). (LUKMAN HAKIM AG/JPRM)
AIR BERSIH: Warga mengisi galon dengan air bersih dari tandon 11 di Jalan 1, Dusun 2, Desa/Pulau Pagerungan Besar, Kecamatan Sapeken, Sumenep, Rabu (10/12). (LUKMAN HAKIM AG/JPRM)

SUMENEP, RadarMadura.id – Dari rumah Thahira yang terletak di Dusun 6 kami naik sepeda motor ke arah selatan melewati jalan paving. Kami bergeser ke Hj Munira Home Stay di Jalan 1, Dusun 2, Selasa (9/12) malam. 

Di ujung gang yang terdapat papan informasi Ponpes Al-Kautsar, sepeda motor kami belok kiri di Jalan 2. Sekitar 25 meter kemudian belok kanan masuk jalan cor yang menghubungkan dengan Jalan 1 yang beraspal. Begitu naik ke Jalan 1 langsung nganan. Di situlah Hj Munira Home Stay, rumah milik keluarga Wasik, yang akan kami tinggali selama dua malam.

Di seberang rumah singgah itu berdiri Rumah Makan H Munisyam. Tempat usaha itu dikelola Munira, istri Wasik. Pasangan suami istri (pasutri) itu sudah melaksanakan ibadah haji. Rumah makan itu menyediakan menu nasi campur, nasi goreng, nasi lalapan, soto nasi, dan soto lontong. Pemburu kuliner tinggal pesan untuk menggoyang lidah mengenyangkan perut.

Wasik menyambut kami dengan ramah. Sama seperti umumnya warga yang kami jumpai di pulau ini. Saat kami berpapasan di jalan, mereka menyapa atau sekadar tersenyum dan sedikit mengangukkan kepala.

Dari Wasik inilah saya mendapatkan beberapa informasi mengenai Pagerungan Besar. Mulai cerita asal-usul sesepuh mereka, penutur dua bahasa Bajo dan Mandar, pekerjaan warga, hingga kebutuhan air bersih untuk mandi dan konsumsi. 

Sambil menunjukkan kamar mandi, dia menjelaskan bahwa airnya berasal dari sumur. Rasa air dari sumur itu tawar meski hanya berjarak sekitar 20 meter dari bibir pantai. Seperti milik Wasik di teras belakang sumahnya. 

Rumah pria yang mengaku pernah bekerja di Kangean Energy Indonesia (KEI) Ltd itu memang berdiri tak jauh dari pantai selatan Pagerungan Besar. "Ini tidak dalam," katanya sambil memperlihatkan tali yang tersambung dengan timba. Panjang tali hanya sekitar sekitar tiga meter.

Wasik menyemplungkan timba itu ke dalam sumur. Hanya dalam hitungan detik sudah terisi air. "Tawar," ucap saya setelah mencicipi dari dari timba putih itu. "Beneran air ini tidak payau. Sungguh tawar," kata saya setelah mencicipi air di kamar mandi. Sama seperti dengan air di rumah Thahira yang tidak ada payau-payaunya.

Obrolan dengan Wasik kembali kami lanjutkan setelah isya di bawah temaram lampu darurat. Sebab, malam itu di rumah Wasik bertepatan giliran pemadaman. Layanan listrik di pulau ini memang menyala 24 jam. 

Namun, diberlakukan secara bergiliran. Sehari menyala, sehari padam. Karena itu, tidak sedikit warga yang memiliki panel pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang dimanfaatkan ketika listrik dari KEI itu sampai pada giliran padam.

Setelah itu, saya dan teman-teman keluar untuk mencari penjual kopi. Kami kembali tengah malam untuk istirahat karena keesokan harinya masih mau ke Pulau Sapeken dan Pulau Saseel.

Sekitar pukul 04.00, saya bangun tidur. Sepuluh menit sebelum azan Subuh berkumandang, pelantang masjid terdengar tak jauh dari tempat saya menginap. Dari corong suara itu terdengar lantunan ayat suci Al-Quran, disusul salawat tarhim hingga azan berkumandang menyusul pembacaan taawuz dan salawat pada pukul 04.28.

Sesekali suara kendaraan lewat di jalan depan rumah Wasik. Generator set (genset) milik tetangga juga masih menyala. Segera saya ke kamar mandi untuk menghilangkan gerah yang membuat tidak terlalu nyenyak tidur malam itu. Namun, mata yang terlelap lumayan untuk mengistirahatkan badan. 

Aroma laut dan ikan asin menghantam hidung sesaat setelah membuka pintu belakang. Begitu pintu terbuka, lampu kapal terlihat mengayun digoyang gelombang. Mesin perahu nelayan menderu-deru di pantai selatan.

KAPASITAS BESAR: Mesin RO milik PT KEI Ltd  mendistribusikan air bersih untuk kebutuhan perusahaan dan disalurkan untuk kebutuhan warga Desa/Pulau Pagerungan Besar, Sapeken, Sumenep, Rabu (10/12).
KAPASITAS BESAR: Mesin RO milik PT KEI Ltd mendistribusikan air bersih untuk kebutuhan perusahaan dan disalurkan untuk kebutuhan warga Desa/Pulau Pagerungan Besar, Sapeken, Sumenep, Rabu (10/12).

Aktivitas nelayan dimulai untuk menangkap ikan. Pekerjaan ini banyak ditekuni kaum laki-laki warga Pagerungan Besar. Tentu saja ada yang bekerja di bidang yang lain, termasuk di perusahaan.

Sementara itu, empat perempuan antre untuk mengisi air konsumsi dari tandon 11 ke galon dan jeriken di tepi simpang tiga rumah Wasik. Tepat di sisi utara Jalan 1, Dusun 2. "SKK Migas-KEI. Tangki air bersih. Dimasak dulu sebelum diminum," begitu tulisan di tandon biru dan merah tua itu.

Mereka ngobrol dalam bahasa Mandar sambil menunggu galon yang dibawa terisi penuh. Saya hanya mendengar. Tidak mengerti pembicaraan mereka. Galon-galon yang sudah terisi itu kemudian diangkut menggunakan gerobak. 

Ada juga yang menggunakan sepeda listrik. Seperti Putri Bahira, yang pagi itu mengangkut galon yang ibundanya isi air dari tandon. "Tabik," kata pengendara sepeda listrik kepada perempuan pengisi galon yang berarti permisi.

Air dari tandon yang didistribusikan dari KEI (warga menyebutnya dengan kata "lokasi" atau "perusahaan") tersebut dimanfaatkan untuk kebutuhan warga. "Ini mulai tadi subuh banyak orang yang ambil air," jelas Bahira, 50. 

Warga Jalan 2, Dusun 6, itu menuturkan, warga memanfaatkan air tangki itu dengan baik. "Kalau dibuat masak, nasinya tidak cepat basi," imbuh perempuan yang pagi itu berkerudung merah muda tersebut.

Tandon air itu dibangun oleh KEI. Jumlah keseluruhan 13 titik. Tiap dusun dipastikan ada. Air yang didistribusikan berasal dari penyulingan air laut yang diproses melalui mesin reverse osmosis (RO) oleh perusahaan gas bumi tersebut. Tiap hari perusahaan menyuplai 40 ton ke belasan tandon tersebut.

Suplai air dari perusahaan itu sangat membantu untuk memenuhi kebutuhan warga. Selain memfasilitasi kebutuhan air konsumsi, KEI juga membangun jaringan air ke lahan pertanian. Air dari sumur warga itu didistribusikan untuk kebutuhan pertanian dan hewan ternak warga. 

Hewan ternak seperti kambing itu banyak terlihat di kebun, seperti di sekitaran pipa gas. Kambing-kambing itu ada di dalam kandang berpagar potongan kayu. Ada pula yang sedang mencari makan di luar.

Air RO yang didistribusikan KEI itu tidak semua dimanfaatkan untuk konsumsi. Sebab, ada juga warga yang lebih memilih mengonsumsi air sumur. "Kalau saya ini pakai air sumur untuk minum dengan dimasak terlebih dahulu," ujar seorang perempuan penjual gado-gado di timur rumah Wasik pagi itu. Saya pun minum air hangat yang dia suguhkan setelah makan gado-gado.

Kuliner itu sebenarnya lebih mirip rujak. Selain lontong, ada irisan bonggol pisang, mi, timun, buncis, dan kuah rujak yang terbuat dari ulekan kacang tanah. Rasanya ada manis-manisnya gula merah. Hanya dengan Rp 5.000 sudah bisa menikmati sarapan di gazebo.

Selain dibantu KEI, kebutuhan air tercukupi oleh keberadaan sumur warga. Rata-rata mereka memiliki sumur di rumah masing-masing. Dengan begitu, minum air tawar, mandi juga jadi segar. (luq/jup)

Editor : Hera Marylia Damayanti
#air konsumsi #bahasa Mandar #Kangean Energy Indonesia #kei #Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) #kebutuhan air bersih #Reverse Osmosis #skk migas #menangkap ikan #tandon #Layanan Listrik #nelayan #Pagerungan Besar