BANGKALAN, RadarMadura.id – Persamaan semangat menjadi simpul pertemuan anggota Komunitas Kasokan.
Mereka terdiri atas beberapa orang dengan berbagai latar belakang. Komunitas lintas disiplin ini memilih fokus pada pelestarian, eksplorasi, dan inovasi budaya, khususnya budaya Madura.
Dengan pendekatan yang kreatif dan inklusif untuk menjadikan nilai-nilai lokalitas sebagai inspirasi dalam berkarya dan berjejaring.
Kasokan didirikan di Bangkalan oleh sekelompok individu yang memiliki kepedulian mendalam pada pelestarian budaya Madura pada 2019.
Berangkat dari sebuah keresahan semakin memudarnya kearifan lokal. Komunitas ini hadir sebagai ruang bersama untuk merawat, menghidupkan, dan memperkenalkan kembali nilai-nilai budaya melalui pendekatan yang relevan dan menyentuh masyarakat.
”Dengan semangat gorong royong dan cinta terhadap budaya sendiri, Kasokan mulai merintis berbagai kegiatan seperti produksi karya berbahasa Madura halus,” tutur Najmun Nahid, salah seorang personel Kasokan.
Kasokan juga menyelenggarakan acara seni dan budaya hingga inisiatif sosial yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
Kasokan tidak hanya hadir sebagai komunitas yang memiliki keinginan untuk menjaga tradisi, tapi juga sebagai pengembangan ekonomi kreatif di Madura melalui kolaborasi lintas sektor.
”Kasokan terus membangun jejaring dan memperkuat kontribusinya bagi masa depan kebudayaan lokal,” imbuhnya.
Kasokan bergerak di bidang pelestarian budaya, seni, dan pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Fokus utama menjaga dan mengaktualisasi kekayaan budaya Madura agar tetap hidup, relevan, dan bermakna di tengah perubahan zaman.
”Dengan tetap mengedepankan prinsip esto lana yang dalam bahasa Madura berarti ikhlas atau tulus hati. Setiap langkah yang diambil dijalankan dengan dedikasi, kejujuran, dan niat untuk memberi manfaat bagi masyarakat tanpa pamrih,” urainya.
Perbedaan latar belakang keahlian dan pengalaman anggota disatukan oleh visi bersama untuk terus merawat dan mengembangkan budaya Madura.
Mereka juga memiliki peran masing-masing, terutama dalam pengaryaan seni musik. Ada yang berperan sebagai musisi dan komposer, penulis dan penelitian budaya, videografer dan editor visual, desainer dan seniman visual, hingga pekerja sosial dan relawan.
”Terdiri atas anak muda Madura, baik yang tinggal di kampung halaman atau perantauan,” bebernya.
Komunitas Kasokan memiliki rutinitas yang dirancang untuk merawat budaya Madura agar tetap relevan dengan generasi masa kini.
Rutinitas berkala, di antaranya, Kasokan Nyè-monyèyan, Ngèmbong atau Ngajhi Èmbongan, Kasokan Young Royoung, Kasokan Nyoprè Sabbhâr, dan Kasokan Trèsna.
”Ngèmbong program bulanan yang menyatukan ngaji sesepuhan dengan musik gamelan Madura dan elemen kontemporer. Biasanya digelar di lokasi terbuka dan terjangkau,” paparnya. (za/luq)
Editor : Achmad Andrian F