Bhângkalan kottha sè moḍḍhâ sareng sombherrâ èlmo
Kottha sè lo’ rang-korang è ḍâlem dhikkèr tor salawâddhâ
Ḍaèra sè dhâddhi moljâ sabâb amoljâ’aghi Sè Maha Moljâ
BANGKALAN, RadarMadura.id – Penggalan lirik lagu di atas merupakan salah satu dari 13 lagu dari album terbaru Komunitas Kasokan yang segera dirilis dalam waktu dekat.
Nata Abâ’ judul album itu. Penikmat musik bisa menikmati melalui beberapa ruang dengar digital.
Lagu yang ditulis dan dinyanyikan dengan bahasa Madura halus ini cocok bagi pemuda pemudi. Sebab, ada banyak nilai yang bisa dipelajari dari karya anak bangsa itu.
Karya baru yang diciptakan itu tidak terlepas dari perenungan panjang untuk terus merawat dan mempelajari teks-teks sepuh dan kebudayaan lokal Madura untuk diangkat agar tidak lekang oleh waktu.
Kasokan menyadari perkembangan teknologi merupakan tantangan bagi setiap generasi untuk terus merawat tradisi, budaya, dan sebagainya.
Disadari atau tidak, banyak generasi di Madura yang acuh tak acuh untuk merawat warisan nenek moyang.
Contoh kecilnya, berbahasa halus sudah banyak dilupakan oleh generasi saat ini. Bahkan, lebih condong memilih menggunakan bahasa lain untuk alat komunikasi mereka.
Nata Abâ’ atau menata diri adalah konsep yang ditawarkan oleh Komunitas Kasokan. Mereka melakukan riset ke beberapa tokoh.
Seperti tokoh agama, budayawan, sejarawan, dan seniman. Perjalanan yang tidak sebentar mereka lalui untuk menghasilkan 13 karya lagu tersebut.
”Isi dan makna dari setiap lagu bermacam-macam. Ada lagu yang mengangkat teks sepuh, hingga geo Madura,” tutur Najmun Nahid, salah seorang pegiat Komunitas Kasokan.
Tema tiap lagu yang bakal dirilis dalam waktu dekat itu juga beragam. Ada lagu yang memang ditulis bertemakan budaya, spiritual, etika, dan moral. Ada sebagian lagu yang diangkat dari teks Arab dan diterjemahkan ke bahasa Madura halus.
Penggunaan bahasa Madura halus dalam penulisan lagu yang diciptakan oleh Kasokan bukan tanpa alasan. Bahasa halus digunakan untuk menguatkan poin bahasa ibu.
Di satu sisi untuk memberikan edukasi kepada generasi Madura zaman sekarang yang mulai banyak tidak bisa berbahasa Madura èngghi-bhunten. ”Semua karya lagu dari Komunitas Kasokan ini menggunakan bahasa Madura halus,” imbuhnya.
Penantian yang cukup panjang akhirnya bisa membuat Komunitas Kasokan bisa bernapas lega. Sebab, sebentar lagi karya mereka akan segera dirilis.
Penelitian dari satu tempat ke tempat lain. Mereka mendatangi beberapa tempat untuk melakukan penelitian dalam dua tahun terakhir.
”Dari tongkrongan membuat konsep hingga meneliti ke beberapa tempat kurang lebih 2 tahun waktu yang dibutuhkan,” sambungnya.
Secara garis besar, urutan lagu pertama hingga akhir berkesinambungan. Tema besar dari kumpulan belasan lagu itu adalah moral, etika, dan spiritual.
Tiap lagu memiliki karakter berbeda dan memiliki makna tersirat yang cukup beragam. Makna tersirat dari album Nata Abâ’ itu adalah menata diri sendiri sebelum menilai orang lain.
Dalam pengaryaan album Nata Aba’ semua terlibat dan saling gorong royong. Baik dalam penyusunan lirik, terutama pencarian nada yang cukup sulit.
Sebab, jika nada tidak sesuai dengan lirik, sangat memungkinkan untuk merusak esensi dari lagu itu sendiri.
”Alat musik yang digunakan kolaborasi tradisional dan modern, seperti gamelan. Kalau yang identik Madura alat musik dukduk,” tuturnya. (za/luq)
Editor : Achmad Andrian F