PAMEKASAN, RadarMadura.id – Rekor calon jemaah haji (CJH) tertua di Pamekasan tahun ini dipegang Marhamah. Perempuan 104 tahun itu akan didampingi putrinya.
Perjalanan ibadah ke Tanah Suci tahun ini merupakan kali kedua bagi perempuan sepuluh buah hati itu.
Marhamah tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya karena tahun ini dia akan melaksanakan ibadah haji.
Dia masuk panggilan berangkat ke Tanah Suci setelah lama menanti. Terhitung sudah tujuh tahun dia menunggu jadwal keberangkatan sejak mendaftar.
Marhamah merupakan warga Dusun Jati Jajar, Desa Palengaan Laok, Kecamatan Palengaan, Pamekasan.
Namanya terdata di Kementerian Agama (Kemenag) sebagai CJH tahun ini sebagai jemaah lansia. Bahkan tergolong CJH paling tertua di Pamekasan dengan usia 104 tahun.
Usia memang sudah senja dan badan telah renta. Namun, semua itu tidak menyurutkan semangatnya untuk berangkat haji. Bahkan, dia telah menjadi tamu Allah untuk kali kedua.
”Tentu saya tidak menyangka saya akan dipanggil untuk berhaji. Sebelumnya, saya diberangkatkan umrah oleh anak saya khawatir usia tidak sampai,” katanya kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Senin (5/5).
Di langgar kayu rumahnya, dia menjawab beberapa pertanyaan JPRM dengan penuh lembut. Mata Marhamah berkaca-kaca saat ditanya perasaannya.
Semasa hidup, dirinya telah pasrah. Namun, Tuhan berkehendak lain untuk memanggilnya kembali melaksanakan rukun Islam yang kelima.
”Saya tidak memiliki amalan apa pun. Dari dulu saya hanya berniat naik haji. Alhamdulillah bunga (sangat senang, Red) saya,” ucapnya dengan suara serak.
Semasa muda, Marhamah merupakan petani dan perajin genting. Tidak ada tips khusus bagi Marhamah memiliki usia panjang seperti saat ini. Namun, dirinya membiasakan makan masakan dari alam.
”Saya hanya sering makan nasi jagung, daun kelor, dan ikan tono buja cabbi. Tidak pernah yang lain,” tambahnya.
Selain suka olahan dari alam, perempuan kelahiran 1921 itu mengaku tidak pernah mengonumsi micin. Termasuk makanan siap saji seperti mi.
Sebab, baginya, makanan dari bahan-bahan itu tidak cocok di lidahnya. ”Saat cucu saya buat, aromanya saja bikin antem,” paparnya.
Banyaknya kalender yang telah dia lalui membuat pendengaran dan penglihatan berkurang. Namun, lantunan ayat-ayat surah Yasin masih diingatnya dengan kuat. ”Saat ini saya hanya salat hajat, bersykur, berzikir, dan mengaji Yasin meskipun samar-samar,” tuturnya.
Dia mengaku tidak banyak harapan dalam ibadah haji tahun ini. Baginya bisa menunaikan rukun Islam yang kelima sudah lebih dari cukup.
Semua kebutuhan sudah disiapkan oleh putrinya, Ayyamah. Putri ke-8 itulah yang akan menjadi pendamping Marhamah. ”Niat tetap, semoga bisa menuaikan ibadah haji dengan sempurna,” ucapnya.
Sahrul Gunawan, menantu Marhamah, mengungkapkan, mertuanya sudah lima tahun tidak bekerja. Semasa hidupnya tidak berhenti mengontrol kesehatan setiap bulan.
”Orangnya suka jalan dan suka makan sayur. Makanya, beliau sehat,” jelas suami Holisah, putri ke-9, Marhamah, itu.
Sementara itu, Koordinator KBIHU AL Miftah M. Rofiuddin menyampaikan, Marhamah masuk kelompok terbang (kloter) 95. Dari 93 jemaah, Marhamah memang jemaah tertua di KBIHU AL Miftah. ”Meskipun beliau lansia, tapi sehat dan tidak masuk jemaah risiko tinggi,” ungkapnya.
Kloter 95 akan berangkat pada 29 Mei. Khusus Marhamah, kloternya akan memberikan pelayanan khusus. Yakni, pendampingan selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
”Dari kami akan memberikan pelayanan ekstra. Berupa perhatian dan bimbingan secara khusus selama perjalanan ibadah hajinya untuk kesempurnaan dan kenyaman. Itu bentuk tanggung jawab kami,” janjinya. (ay/luq)
Editor : Ina Herdiyana