Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Peringati Hari Kebebasan Pers Sedunia, AJI Surabaya Gelar Nobar dan Diskusi Film Cut to Cut

Hera Marylia Damayanti • Senin, 5 Mei 2025 | 15:36 WIB
FOKUS: Puluhan peserta fokus mengikuti nobar dan diskusi film Cut to Cut di Kafe Niscala di Jalan KH Mansyur, Desa Pabian, Kecamatan Kota Sumenep, Sabtu (3/5) malam. (MOH. LATIF/JPRM)
FOKUS: Puluhan peserta fokus mengikuti nobar dan diskusi film Cut to Cut di Kafe Niscala di Jalan KH Mansyur, Desa Pabian, Kecamatan Kota Sumenep, Sabtu (3/5) malam. (MOH. LATIF/JPRM)

SUMENEP, RadarMadura.id – Aroma wangi beragam kopi menyambut pengunjung Kafe Niscala di Jalan KH Mansyur, Desa Pabian, Kecamatan Kota Sumenep, Sabtu (3/5) malam.

Saat itu suasana terasa berbeda. Sejumlah jurnalis berdatangan, tetapi bukan untuk melakukan peliputan.

Melainkan, nonton bareng dan diskusi film dokumenter Cut to Cut yang diadakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya.

Seiring bergulirnya waktu, kursi-kursi yang semula kosong mulai terisi oleh puluhan pengunjung.

Sebelum film diputar, sebagian dari mereka terlihat menikmati kopi dan berbincang ringan dalam kegiatan yang digelar untuk memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia 2025.

Acara itu menjadi momen penting untuk menyuarakan isu krusial seputar dunia jurnalis.

Film Cut to Cut yang disutradarai oleh Miftah Faridl tersebut mendokumentasikan kisah nyata pemotongan upah dan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sejumlah jurnalis CNN Indonesia.

Film dokumenter ini tidak hanya menarasikan rangkaian kejadian nyata, tetapi juga menjadi simbol perlawanan terhadap praktik ketidakadilan.

Melalui pengalaman pribadi dan kawan-kawannya, Miftah Faridl berhasil menyajikan realitas pahit pemangkasan upah secara sepihak dan pemecatan tanpa kejelasan. Hal tersebut menjadi sinopsis dari film tersebut.

”Kita ini kelas pekerja dan tidak alasan untuk merasa rendah ketika disebut sebagai buruh,” kata Faridl membuka diskusi setelah pemutaran film selesai.

Sejak September 2024, Miftah Faridl bersama tujuh jurnalis CNN lainnya di Jakarta harus menghadapi tekanan dari manajemen.

Gaji yang sebelumnya Rp 3 juta dipangkas hingga tersisa 60 persen. Mirisnya, mereka juga diberhentikan tanpa proses yang adil.

FOKUS: Dari kiri, anggota KI Sumenep Moh. Rifa
FOKUS: Dari kiri, anggota KI Sumenep Moh. Rifa

”Kami tidak tinggal diam, tetap menolak tunduk pada kekuasaan pemilik media, seperti Chairul Tanjung. Makanya, kita harus berserikat,” ujarnya.

Menurut dia, membiarkan ketidakadilan hanya akan semakin memperkuat budaya kekerasan dalam struktur industri media.

Menurutnya, film dokumenter tersebut juga menjadi catatan penting bagi masyarakat, bahwa mereka yang bertugas menyampaikan kebenaran, juga dapat menjadi korban dari sistem yang tidak adil.

”Bukan hal yang tidak mungkin apa yang saya alami menimpa jurnalis lain di masa mendatang. Jadi, film ini setidaknya membuat kita memiliki peluang untuk melawan dalam bentuk apa pun,” tutur Miftah Faridl.

Miftah Faridl menegaskan, film tersebut tidak sedang menceritakan apa yang terjadi di CNN semata, tetapi hanya sebagai gambaran saja.

Sebab, hal serupa juga berpotensi mengancam para jurnalis yang ada di daerah. Bahkan, mereka lebih rentan.

”Saya bersyukur bisa bertemu (wartawan) malam ini. Tentunya, hal ini sebagai bentuk solidaritas yang akan kami jadikan bahan bakar untuk tetap melawan sampai semuanya selesai,” tandasnya.

Sementara itu, Moh. Rifa’i selaku anggota Komisi Informasi (KI) Sumenep yang juga menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut menyampaikan, keberadaan organisasi bagi pekerja pers maupun karyawan itu sangat penting.

Tujuannya, untuk mengakomodasi kepentingan mereka yang ada di dalamnya. ”Tentu saja organisasi itu dibentuk untuk kepentingan kita sendiri,” tuturnya.

Jurnalis senior di Kota Keris itu juga mengupas berbagai persoalan yang dihadapi para junalis di era kekinian.

Mulai dari praktik pemecatan massal, pemotongan gaji tanpa dasar, hingga lemahnya sistem perlindungan hukum bagi para pekerja media.

Acara yang dipandu jurnalis Maduraindepth Moh. Busri itu dapat menyingkap bahwa di balik informasi yang masyarakat konsumsi setiap hari, ternyata ada banyak pekerja media yang berjuang bukan hanya untuk menyampaikan fakta.

Tetapi, juga untuk mempertahankan hak dan martabatnya di tengah situasi yang tidak selalu adil. (*/yan)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#jurnalis #Cut to Cut #phk #film dokumenter #pemecatan massal #pemotongan gaji #aliansi jurnalis independen #ketidakadilan #Miftah Faridl #wartawan #pekerja media #kejadian nyata #perlindungan hukum