SUMENEP, RadarMadura.id – Peran sastra tidak bisa disepelekan. Karena sastra dapat mengasah kepekaan terhadap lingkungan dan isu-isu kemanusiaan dalam kehidupan.
Suasana kantor MWCNU Gapura berbeda dengan biasanya, Sabtu (12/4) sore. Ratusan santriwan dan santriwati berada di halaman kantor yang berlokasi di Desa Gapura Tengah, Kecamatan Gapura, Sumenep, tersebut.
Mereka datang untuk menyimak bincang buku kumpulan cerita pendek (cerpen) berjudul Ludah Nabi di Lidah Syekh Raba yang ditulis Royyan Julian.
Acara itu juga diikuti para penulis di Kota Keris. Seperti Mahendra Cipta, Matroni, Selendang Sulaiman, Saifa Abidillah, dan beberapa penulis lainnya.
Sebelum acara dimulai, peserta disuguhi penampilan santri lewat pembacaan puisi secara bergiliran.
Penampilan para santri itu menambah kemeriahan acara yang dipandu oleh Ina Herdiyana, A. Warits Rovi sebagai pembicara, dan Royyan Julian sebagai penulis kumpulan cerpen Ludah Nabi di Lidah Syekh Raba.
Para peserta sangat antusias mengikuti acara bincang buku dengan tebal 134 halaman tersebut. Peserta aktif mengajukan pertanyaan kepada pembicara.
Ketua Komunitas Damar Korong Daviatul Umam menyatakan, paguyubannya mendeklarasikan diri sebagai komunitas sastra yang berpusat di Kecamatan Gapura.
Kegiatan itu bekerja sama dengan penerbit Rua Aksara untuk membincangkan kumpulan cerpen Ludah Nabi di Lidah Syekh Raba.
”Sastra dan budaya merupakan rekaman dinamika kehidupan. Meskipun masyarakat kita di Sumenep masih memandang sastra dengan sebelah mata,” ujarnya.
Salah satu fungsi sastra adalah untuk mengasah kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya dan isu-isu kemanusiaan.
Akan tetapi, masyarakat masih tetap mengesampingkan peran sastra dalam kehidupan sehari-hari.
”Terima kasih kepada semua peserta yang hadir dan mengikuti kegiatan ini, terutama kepada Royyan Julian selaku penulis, A Warits Rovi selaku pembicara, dan Ina Herdiyana sebagai pemandu acara,” tandasnya.
Sementara, A Warits Rovi menyatakan, dari judulnya, cerpen Ludah Nabi di Lidah Syekh Raba sangat menarik perhatian. Sebab, penulis menyandingkan dua kata yang hampir mirip.
”Dari judulnya saja, saya melihat ada kehati-hatian dan upaya serius dari penulis untuk menciptakan sesuatu dalam cerpen ini,” ujarnya.
Pihaknya menilai Royyan Julian merupakan salah satu penulis yang jarang mengirimkan karya cerpennya ke media massa.
Sebab, media di Indonesia membatasi karakter kata para penulisnya. Sedangkan Royyan Julian cenderung panjang dalam memberi judul karyanya.
Sementara Royyan Julian menyatakan, karyanya itu merupakan salah satu kumpulan cerpen yang tidak memiliki benang merah.
Sebab, buku itu tidak seperti kumpulan cerpen sebelumnya yang berjudul Tandak dan fokus membahas tentang Madura.
”Bahkan dalam kumpulan cerpen ini, saya berusaha menghilangkan unsur Madura, meskipun bagi orang Madura itu sendiri tetap Madura,” terangnya.
Sedangkan dalam menulis puisi, Royyan selalu ingin mengeksplorasi bentuk pengucapan dan artistik.
Namun, keinginannya itu tidak berlaku dalam novel dan cerpen. Karena novel dan cerpen sifatnya bercerita.
”Kalau ingin menjelajah bahasa, saya menggunakan wahana puisi. Jadi kalau misalnya ada yang membaca kumpulan puisi saya, itu akan beda-beda bentuk bahasanya,” tuturnya.
Royyan mengaku tidak ingin berhenti menulis puisi. Karena puisi membantunya dalam menulis karya sastra yang lain, seperti novel, cerpen, dan lainnya.
”Menulis puisi membantu saya mengkurasi kata dengan sangat ketat. Jadi, dalam menulis cerpen atau esai, itu saya tetap berpegang teguh pada ekonomi bahasa, kita harus hemat dan tidak boleh menghambur-hamburkan kata,” tandasnya. (*/jup)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti