Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Agus Maksum, Penjual Selongsong Ketupat Dadakan, Rela Tinggalkan Aktivitas Berjualan Sembako di Surabaya

Hera Marylia Damayanti • Senin, 7 April 2025 | 12:45 WIB
BERNILAI EKONOMI: Nadia, istri Agus Maksum, membuat selongsong ketupat di Jalan Panglima Sudirman, Bangkalan, Sabtu (5/4). (IMAMUDIN/JPRM)
BERNILAI EKONOMI: Nadia, istri Agus Maksum, membuat selongsong ketupat di Jalan Panglima Sudirman, Bangkalan, Sabtu (5/4). (IMAMUDIN/JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah sudah berlalu. Namun, Lebaran belum berakhir. Hari ini (7/4) umat Islam merayakan Lebaran Ketupat.

Ketupat menjadi makanan wajib yang disajikan di hari ketujuh pasca Hari Raya Idul Fitri.

Tidak heran, sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri disebut dengan Lebaran Ketupat.

Di Pulau Garam, beragam tradisi dilaksanakan masyarakat saat Lebaran Ketupat.

Salah satunya, memasak lauk yang nantinya disantap dengan ketupat.

Makanan olahan tersebut kemudian dikonsumsi bersama keluarga dan diberikan ke tetangga sekitar.

Kebiasaan yang sudah turun-temurun itu membawa berkah bagi penjual selongsong ketupat.

Minggu (6/4), puluhan pedagang selongsong ketupat dadakan berjualan di Jalan Panglima Sudirman, Bangkalan.

Salah satunya adalah Agus Maksum. Pedagang asal Kecamatan Labang itu mengaku mendapat berkah dari Lebaran Ketupat.

sebab, kuntungan dari menjual selongsong ketupat cukup menjanjikan.

Agus mengaku sudah terbiasa berjualan selongsong ketupat setelah Hari Raya Idul Fitri.

Karena akan banyak masyarakat yang membutuhkan selongsong ketupat.

MENJELANG LEBARAN KETUPAT: Agus Maksum menunjukkan cangkang ketupat siap jual di Jalan Panglima Sudirman, Bangkalan, Sabtu (5/4). (IMAMUDIN/JPRM)
MENJELANG LEBARAN KETUPAT: Agus Maksum menunjukkan cangkang ketupat siap jual di Jalan Panglima Sudirman, Bangkalan, Sabtu (5/4). (IMAMUDIN/JPRM)

”Saya berjualan sudah dari tahun-tahun sebelumnya. Yaitu, H-2 Lebaran Ketupat,” ujarnya.

Agus membuat selongsong ketupat menggunakan daun kelapa muda atau janur.

Hasil kerajinan tangannya kemudian dijual ke warga bersama istrinya, Nadia. Berjualan cangkang ketupat itu sudah dilakukan setiap tahun.

Bahkan, Agus rela meninggalkan aktivitas rutinnya, yaitu berjualan sembako di Surabaya.

”Pekerjaaan saya biasanya jualan sembako. Setelah Lebaran biasanya berjualan cangkang ketupat di daerah Kota Pahlawan, saat ini baru pertama kalinya jualan di Bangkalan,” ujarnya.

Pria 40 tahun itu mengaku bisa membuat cangkang ketupat karena diajari orang tuanya saat masih anak-anak.

Keahliannya tersebut bisa membawa penghasilan ratusan ribu. ”Saya menjual dengan harga Rp 15 ribu per ikat,” ujarnya.

Satu ikat terdiri dari sepuluh cangkang ketupat. Dalam sehari Agus bisa menyediakan 50 hingga 100 cangkang ketupat.

Hasil penjualan selongsong ketupat mencapai ratusan ribu. ”Saya juga terima pesan dari orang-orang, bahkan bisa sampai 100 selongsong,” pungkasnya. (din/jup)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#Lebaran Ketupat #berjualan #cangkang ketupat #selongsong ketupat #dadakan