Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Memperingati Harlah Ke-102 NU, Mengenang Para Pendiri di Madura (4), Mudah Diterima karena Melanjutkan Tradisi Wali Sanga dan Ulama Pesantren

Hera Marylia Damayanti • Jumat, 24 Januari 2025 | 14:55 WIB
LITERATUR: Wakil Ketua PCNU Pamekasan KH Zainul Hasan (kanan) dan Ketua Panitia Harlah Ke-102 NU PCNU Pamekasan Kiai Ikhsan Ikhwani membaca buku di Kantor PCNU Pamekasan, Jumat (17/1).
LITERATUR: Wakil Ketua PCNU Pamekasan KH Zainul Hasan (kanan) dan Ketua Panitia Harlah Ke-102 NU PCNU Pamekasan Kiai Ikhsan Ikhwani membaca buku di Kantor PCNU Pamekasan, Jumat (17/1).

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Nahdlatul Ulama (NU) memiliki sejarah panjang di Kabupaten Pamekasan.

Organisasi itu hadir di Kota Gerbang Salam hanya beberapa tahun setelah didirikan ulama karismatik di tanah air.

Yaitu, KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri.

Keberadaan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan tidak bisa dilepaskan dari KH Sirajuddin bin Kiai Nasruddin bin Kiai Itsbat.

Ulama karismatik asal Kota Gerbang Salam itu berada di balik berdirinya PCNU Pamekasan pada 1928.

Wakil Ketua PCNU Pamekasan KH Zainul Hasan menyatakan, terdapat dua catatan sejarah mengenai waktu berdirinya PCNU di Kota Gerbang Salam, yaitu tahun 1926 dan 1928.

Namun, yang paling relevan saat disandingkan dengan sejarah perjalanan NU yaitu pada 1928.

”Ini diperkuat dengan Muktamar III pada 1928 di Surabaya, yang di antaranya membentuk lajnah an-nasyihin. Saat itu, PCNU yang kali pertama terbentuk yaitu di Jombang, tempat muasal pendiri NU. Baru setelahnya di daerah lain terbentuk pengurus cabang,” ujarnya.

Lajnah an-nasyihin bertugas mempromosikan NU. Dari hasil muktamar itu, KH Muhammad Hasyim Asy’ari yang sekaligus pendiri NU mengenalkan organisasi ke Pulau Garam.

Daerah yang didatangi kali pertama yaitu Kabupaten Sampang.

”Kemungkinan beliau bertemu dengan KH Syabrawi. Nah, Kiai Syabrawi ini punya hubungan dekat dengan Ponpes Miftahul Ulum Bettet, Pamekasan. Sebab, saudara dari Kiai Sirajuddin diperistri saudara Kiai Syabrawi,” ulasnya.

Baca Juga: Kajari Sampang Fadilah Helmi Raih Penghargaan Perempuan Inspiratif Madura Awards 2024

Dari kedekatan itulah, PCNU Pamekasan bisa terbentuk. Karena itu, pihaknya ragu jika PCNU Pamekasan terbentuk 1926.

Sedangkan informasi tentang kedekatan Kiai Sirajuddin dan Kiai Wahab Chasbullah belum didukung oleh bukti yang cukup.

”Informasi ini menjadi lemah karena ada data yang menyebutkan bahwa Kiai Sirajuddin sempat menjadi pengasuh sementara di Ponpes Miftahul Ulum Panyepen 1909–1912. Pada saat itu, Kiai Wahab Chasbullah baru datang mondok dari Makkah,” terang Kiai Zainul.

Ada enam tokoh lain yang juga ikut berperan dalam pendirian PCNU Pamekasan.

Yaitu, KH Badruddin Panyepen, KH Raden Panji Sosro Adikoro, KH Miftahul Arifin Sumber Anyar, KH Mohammad Toha Sumber Gayam, KH Mudhar dan Kiai Abdul Muin.

”Kiai Badruddin ini adik Kiai Siraj. Kalau Kiai Miftahul Arifin itu memondokkan dua putranya di Ponpes Miftahul Ulum Bettet. Sementara Kiai Toha merupakan ipar dari Kiai Miftahul Arifin. Lalu, Kiai Abdul Muin diinformasikan berkenan menjadi petugas (kurir, Red) ketika terjadi korespondensi (surat-menyurat) antara Kiai Siraj dan Kiai Nawawi Sidogiri.” tutur Kiai Zainul.

NU bisa dengan mudah diterima oleh masyarakat. Sebab, hanya melanjutkan tradisi yang dibangun oleh para Wali Sanga dan ulama pesantren.

Sementara untuk penyebaran secara formal, organisasi itu menyebar melalui jalur keguruan dan jalur kekeluargaan.

Itu bisa dilihat dari para kiai yang mendirikan PCNU Pamekasan. Antara satu dan yang lain memiliki kedekatan.

Tahun ini, NU memasuki usia ke-102. Baginya, organisasi tersebut adalah thoriqoh atau cara/jalan untuk mengamalkan agama.

Dia mengingatkan agar ajaran, kebiasaan, dan amalan yang ada di NU tetap dipertahankan hingga masa mendatang.

”Ajaran di NU itu tasamuh atau toleran, tawasuth atau moderat, tawazun atau seimbang, al’adlu atau adil, serta amar ma’ruf nahi munkar yaitu mengajak orang untuk berbuat baik dan melarang orang untuk berbuat buruk,” sambungnya.

Kiai Zainul menambahkan peringatan Harlah Ke-102 NU digelar secara estafet di Pamkeasan.

Setidaknya, terdapat 15 rangkaian acara untuk memperingati momen bersejarah. Kegiatan dimulai dengan Pelatihan Kader Da’iyah pada 22 Desember 2024.

Sementara itu, Ketua Panitia Harlah Ke-102 Nahdlatul Ulama PCNU Pamekasan Kiai Ikhsan Ikhwani menyampaikan, momen peringatan hari jadi itu ditandai dengan apel akbar.

Kegiatan itu dilaksanakan di Lapangan Bulay, Sabtu (18/1).

”Tidak hanya kegiatan berupa peningkatan ilmu pengetahuan, tetapi PCNU Pamekasan juga memiliki agenda sosial seperti donor darah, sertifikasi tanah wakaf gratis, hingga bangun rumah layak huni pada harlah NU,” pungkasnya. (afg/jup)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#KH Sirajuddin #nu #melanjutkan tradisi #102 #kota gerbang salam #wali sanga #harlah #ulama pesantren #ajaran #PCNU Pamekasan #nahdlatul ulama