PAMEKASAN, RadarMadura.id – Tidak ada manusia yang terlahir sempurna. Kalimat tersebut yang menjadi pegangan Imron Wicaksono.
Meski terdapat kekurangan, bukan berarti mereka harus dibeda-bedakan atau justru diasingkan.
Bobon percaya bahwa dukungan keluarga dan orang terdekat bisa memberikan dampak positif terhadap pola pikir seorang difabel.
Dorongan itu mampu memberikan secercah harapan bagi mereka untuk menjalani kehidupan yang lebih berwarna.
”Bagi teman-teman sesama disabilitas, khususnya tunanetra, tetaplah percaya diri dan jangan jadikan kekurangan yang kita miliki sebagai hambatan untuk menjalani hidup yang lebih baik lagi,” terang pria yang juga seorang guru itu.
Sementara itu, Kepala SLBN Bugih Pamekasan Sitti Fatimatus Zahrah mengungkapkan, ada banyak kejadian yang menunjukkan perilaku keliru oleh keluarga difabel.
Sebagian dari mereka masih malu untuk mengakui keberadaan penyandang disabilitas.
”Ada banyak anak berkebutuhan khusus (ABK) yang justru dikurung di dalam rumah. Bahkan, mereka minder anak-anaknya disekolahkan di SLB. Padahal, anak yang sekolah dengan yang tidak sekolah, sikapnya akan tampak berbeda,” ujarnya.
Selama ini tidak banyak para penyandang disabilitas yang bisa diterima di lingkungan masyarakat.
Fatimatus berharap agar diskriminasi terhadap difabel bisa berangsur-angsur hilang.
”Mari rangkul dan apresiasi mereka,” ajaknya. (afg/luq)
Editor : Fatmasari Margaretta