BANGKALAN, RadarMadura.id – Desa Sobih, Kecamatan Burneh, Bangkalan, merupakan salah satu penghasil cabai merah.
Ada sepuluh hektare tanaman cabai yang dikelola oleh anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Plotan. Setiap hari, petani di Desa Sobih bisa panen ratusan kuintal cabai.
Ketua KWT Plotan Harirotul Hasanah mengungkapkan, selain menanam padi, mayoritas petani di desanya menanam cabai merah.
Jenis cabai yang ditanam merupakan cabai merah atau cabai besar. ”Ada sepuluh hektare tanaman cabai merah yang dikelola oleh anggota poktan,” katanya Sabtu (28/9).
Hasanah mengungkapkan, sampai ssat ini hasil dari produksi tanaman cabai masih dikelola secara mandiri setiap anggota kelompok tani (poktan).
Hasil panen setiap anggota sesuai luas lahan masing-masing. ”Rata-rata setiap petani biasanya per hari bisa 150 kuintal,” ungkapnya.
Hasil panen cabai tersebut sementara dijual ke pasar oleh petani. Namun, kelompok tani tetap melakukan pemantauan dan pendampingan ke setiap anggota. ”Karena rata-rata yang mempunyai lahan pertanian anggota poktan,” terangnya.
Perempuan berjilbab tersebut menjelaskan, saat ini petani di desanya sudah menerapkan pertanian modern.
Kebanyakan setiap lahan pertanian menggunakan mulsa plastik untuk mempermudah perawatan. ”Kalau tidak pakai plastic, kemungkinan petani setiap hari mencabut rumput,” jelasnya.
Pihaknya juga merencanakan untuk mengelola hasil panen cabai merah tersebut menjadi bahan jadi. Sebab, ketika masa panen besar, harga cabai merah sering anjlok.
Dengan mengolah cabai, diharapkan dapat menstabilkan keuntungan petani. ”Kami berencana akan membuat seperti bubuk cabai untuk didistribusikan,” paparnya.
Saat ini sedang proses dengan mengikuti pelatihan mengenai cara produksi. Ide dan keinginan KWT itu juga disampaikan kepada pemerintah daerah.
”Kami juga membutuhkan mesin untuk mengelola cabai dan kami sudah berupaya mengajukan bantuan ke pemerintah. Juga mengikuti pelatihan ke luar daerah,” ungkapnya. (c5/luq)
Editor : Achmad Andrian F