Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Warga Pejagan, Bangkalan, Lestarikan Tradisi Rokat Tase’ sebagai Bentuk Syukur, Salawat dan Musik Iringi Larung Sesajen dan Dua Kepala Sapi

Ina Herdiyana • Rabu, 28 Agustus 2024 | 13:30 WIB
SAKRAL: Warga mengikat kepala sapi pada tiang kalabangan dalam ritual rokat tase’ di perairan Kampung Bandaran, Kelurahan Pejagan, Kecamatan Bangkalan, Minggu (25/8). (AYU LATIFAH/JPRM)
SAKRAL: Warga mengikat kepala sapi pada tiang kalabangan dalam ritual rokat tase’ di perairan Kampung Bandaran, Kelurahan Pejagan, Kecamatan Bangkalan, Minggu (25/8). (AYU LATIFAH/JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Kehidupan nelayan tidak jauh dari lirik lagu Tondhu’ Majang ciptaan R Amiruddin Tjitraprawira pada 1940. Yakni, abantal omba’ sapo’ angen salanjangnga.

Nelayan harus bersyukur atas nikmat dan keselamatan selama menyambung hidup di laut.

Olle olang perahu nelayan mulai bergoyang. Seperti lenggokan istri para pelaut itu yang menari mengikuti irama lagu musik saronen dan daul.

Arak-arakan warga membawa larung perahu dan tumpeng buah mulai menepi di pinggir perairan.

Hal itu jadi pertanda bahwa acara rokat tase’ di Kampung Bandaran Minggu (25/8) segera dimulai.

Beberapa sesajen berwarna-warni mulai disiapkan. Termasuk dua kepala sapi yang mulai dinaikkan ke perahu untuk dilarung.

Lantunan salawat sahut-menyahut antara satu perahu dan perahu yang lain. Setidaknya kurang lebih ada 75 perahu yang mengikuti rokat tase’ tersebut.

Perahu itu lengkap dengan musik saronen dan ul-daul para pemuda dan hadrah kaum ibu-ibu.

Tradisi rokat tase’ warga Kelurahan Pejagan, Kecamatan Bangkalan, itu biasa dilaksanakan setiap tahun.

Hal itu dilakukan sebagai bentuk syukur nelayan kepada Tuhan atas perolehan rezeki yang bersumber dari laut.

”Ini rutinitas kami, warga pesisir, setiap tahun sebagai bentuk syukur ke Ilahi Rabbi yang memberikan rezeki dari laut,” kata Ketua RW 11, Kelurahan Pejagan, Mashuri.

Baca Juga: Temukan Luka Lebam, Dokter Forensik Duga Mayat Terbentur Karang

Beberapa sesajen dari lima jenis umbi-umbian mulai ditebar ke laut. Lantunan salawat para nelayan dan warga di atas perahu tak henti-hentinya diucapkan.

Apalagi saat larung perahu yang diisi sesajen mulai dilepaskan di tengah laut.

”Pada sesajen yang dibawa ini ada kepala sapi, buah, hasil bumi dan laut berwadah ancak yang ditempatkan khusus sesuai kepercayaan kami yang dirasa keramat,” tambahnya.

Sementara dua kepala sapi yang terbungkus kain kafan tersebut digantung terpisah. Yakni, pada dua tiang di perairan dekat pesisir.

Dua tiang tersebut sebagai pertanda pintu masuk menuju Kampung Bandaran dan keluar dari kampung untuk melaut.

”Kata orang Madura itu kalabangan. Keluar masuk perahu nelayan lewat situ,” jelasnya.

Masyarakat mempercayai dua pintu tersebut sebagai bentuk berpamitan nelayan kepada Tuhan. Dengan harapan diberi keselamatan dan rezeki barokah untuk keluarga.

”Para nelayan juga mengucapkan salam kepada Nabi Khidir supaya mereka mendapat barokahnya selama melaut,” paparnya.

Pria berkopiah hitam tersebut menyampaikan, rokat tase’ dilaksanakan untuk mengharapkan rida Sang Maha Kuasa.

Juga untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat agar tetap bersyukur atas nikmat yang diperoleh. Kegiatan itu merupakan perwujudan rasa syukur masyarakat.

”Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha, sisanya harus tawakal. Dari luat ini, semoga selalu ada rezeki untuk kami. Karena rezeki dari Allah semua,” jelas Mashuri.

Salah seorang nelayan Rasul Efendi menyampaikan, rokat tase digelar setiap tahun. Harapannya, rezeki yang diperoleh lebih melimpah dan diberi keselamatan.

Baca Juga: Rokib, Lima Periode Menjabat Anggota DPRD Bangkalan, Bertahan karena Dorongan Masyarakat, Jadikan Kompetitor sebagai Kawan Politik

”Semoga saja kami sebagai nelayan diberi keselamatan karena kami bekerja di laut itu banyak risikonya,” ujar pria 53 tahun itu. (ay/luq)

 

 

Editor : Ina Herdiyana
#lestarikan tradisi #musik #sesajen #bentuk syukur #larung #rokat tase’ #kepala sapi #salawat